Islam the best
HARI PERTAMA:
Kejadian 1:1-7
1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
1:3 Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.
1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.
↕ ↕ ↕ ↕ ↕
Kesalahan :
Jelas pada hari pertama Allah menciptakan langit dan bumi, lalu bumi
masih kosong dan gelap gulita, lalu di ciptakan terang. Anehnya apakah
maksud terang di sini?? ternyata TERANG ITU SIANG, GELAP ITU MALAM.
Nah,bagaimana mungkin ada siang dan malam, sedang matahari, bulan dan
bintang2 belum tercipta? siang (terang) dan malam telah ada padahal
matahari dan bulan serta bintang2 belum lagi tercipta.
✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈
HARI KEDUA:
1:6 Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”
1:7 Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di
bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian.
1:8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.
↕ ↕ ↕ ↕ ↕
Kesalahan :
Terlihat ketidak konsistenan di sini.di bilang penciptaan langit di
hari pertama, lantas kemudian di sebut di hari kedua. Lalu setelah pada
hari pertama ada siang dan malam, pada hari kedua ada PAGI DAN PETANG.
Lagi2 keganjilan terlihat di sini, di mana matahari, bulan dan bintang
belum lagi tercipta tapi sudah ada pagi, petang, siang dan malam.
✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈
HARI KETIGA:
1:9 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit
berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah
demikian.
1:10 Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:11 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda,
tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang
menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan
jadilah demikian.
1:12 Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda,
segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan
yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu
baik.
1:13 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.
↕ ↕ ↕ ↕ ↕
Kesalahan ☝ ☝ ☝ ☝ ☝:
Keganjilan terlihat lagi, ketika matahari belum lagi tercipta, pada
hari ketiga tetumbuhan telah di cipta dan hidup tanpa matahari. Lucunya
telah di klaim ada siang,malam,pagi dan petang padahal matahari, bulan,
bintang belum lagi tercipta. Bagaimana tumbuhan dapat hidup tanpa
matahari?? apakah Tuhan begitu irasional hingga tak tahu urutan ilmiah
dalam menciptakan alam??
✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈
HARI KEEMPAT:PENCIPTAAN MATAHARI,BULAN DAN BINTANG2.
1:14 Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala
untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu
menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan
tahun-tahun,
1:15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.
1:16 Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni
yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk
menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.
1:17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
1:18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:19 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.
↕ ↕ ↕ ↕ ↕
Kesalahan ☝ ☝ ☝ ☝ ☝:
Justru di ciptakan sumber cahaya, peredaran hari, bulan dan tahun
ketika hari keempat. Di sinilah letak keganjilan narasi penciptaan bible
jika di hubungkan dengan narasi2 sebelumnya.
✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈
HARI KELIMA:
1:20 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang
hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi
cakrawala.”
1:21 Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang
besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan
dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa
semuanya itu baik.
1:22 Lalu Allah memberkati semuanya itu,
firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah
air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.”
1:23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.
✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈
HARI KEENAM:PENCIPTAAN MANUSIA.
1:24 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis
makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang
liar.” Dan jadilah demikian.
1:25 Allah menjadikan segala jenis
binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata
di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:26
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan
rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan
burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas
segala binatang melata yang merayap di bumi.”
1:27 Maka Allah
menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:
“Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah
itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan
atas segala binatang yang merayap di bumi.”
1:29 Berfirmanlah Allah:
“Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji
di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah
akan menjadi makananmu.
1:30 Tetapi kepada segala binatang di bumi
dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang
bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.”
Dan jadilah demikian.
1:31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.
✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈
HARI KETUJUH:
2:1 Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya.
2:2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang
dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan
yang telah dibuat-Nya itu.
2:3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh
itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala
pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.
2:4 Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, –
2:5 belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun
di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum
ada orang untuk mengusahakan tanah itu;
2:6 tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu–
2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan
menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu
menjadi makhluk yang hidup.
✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈
Demikianlah
penciptaan versi bible yang dapat di kritik lebih dalam lagi, beberapa
ilmuan barat yg tak terjerat iman buta menolak narasi penciptaan bible
yang tak sesuai dgn nalar sains.
Sehingga RICHARD DAWKINZ menyatakan :
Narasi penciptaan bible seperti halnya dongeng tak masuk akal rakyat
afrika yg menyatakan bumi dan langit di ciptakan dari kotoran semut.
Saya yakin taurat adalah dulu asli firman Allah, namun narasi2 yg
sekarang telah banyak tercampur tangan2 kotor manusia.
✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈
NB:
JIKA NABI MUHAMMAD saw adalah nabi palsu, dia akan dengan bodoh
menjiplak apapun yang bodoh dan di tentang nalar modern mengenai kitab
kejadian penciptaan. Ternyata tidak demikian, narasi Al-Quran dari
Allah, bebas dari kesalahan dan Al-Quran MELURUSKAN PENYIMPANGAN TAURAT
YANG TELAH DI KOTORI TANGAN2 MANUSIA.
Jika MUHAMMAD saw yang
buta huruf adalah rasul palsu dan Al-Qur'an adalah ciptaan beliau maka
tentu beliau akan menjiplak kesalahan-kesalahan diatas TAPI tidak....
Beliau adalah sebenar-benarnya utusan Allah swt dan Al-Qur'an adalah
Wahyu Allah swt maka tak ditemukan kesalahan di dalamnya...
Senin
Muhammad shalallahu alaihi wassalam adalah Teladan Umat Manusia.
Islam the best.
Sebagian dikutip dari Buku Ensiklopedi Nabi Muhammad.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)
►1.NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI SUAMI◄
Rasulullah adalah seorang suami yang pandai dalam mengatur urusan rumah tangga yang di dalamnya terdapat beberapa istri yang mempunyai karakter, latar belakang, dan usia yang berbeda-beda.
✔ Bersikap Adil
Nabi Muhammad saw. sangat memperhatikan perilaku adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal, termasuk sesuatu yang remeh dan sepele. Beliau adil terhadap istri-istrinya dalam pemberian tempat tinggal, nafkah, pembagian bermalam, dan jadwal berkunjung. Beliau ketika bertandang ke salah satu rumah istrinya, setelah itu beliau berkunjung ke rumah istri-istri beliau yang lain..
Soal cinta, beliau lebih mencintai Aisyah dibanding istri-istri beliau yang lain, namun beliau tidak pernah membedakan Aisyah dengan yang lain selamanya. Meskipun di sisi lain, beliau beristighfar kepada Allah swt karena tidak bisa berlaku adil di dalam membagi cinta atau perasaan hati kepada istri-istrinya, karena persoalan yang satu ini adalah hak preogratif Allah swt. saja. Rasulullah saw. bersabda:
“Ya Allah, inilah pembagianku yang saya bisa. Maka jangan cela aku atas apa yang aku tidak kuasa.”
✔ Bermusyawarah Dengan Para Istrinya.
Rasulullah saw mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan. Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka. Padahal wanita pada masa jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata, dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan urusan yang langsung dan khusus dengannya.
Islam datang mengangkat martabat wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak qawamah atau kepemimpinan keluarga, berada ditangan laki-laki.
Allah swt berfirman:
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Al Baqarah:228.
✔ Lapang Dada dan Penyayang
Istri-istri Rasulullah saw memberi masukan tentang suatu hal kepada Nabi, beliau menerima dan memberlakukan mereka dengan lembut. Beliau tidak pernah memukul salah seorang dari mereka sekali pun. Belum pernah terjadi demikian sebelum datangnya Islam. Perempuan sebelum Islam tidak punya hak bertanya, mendiskusikan dan memberi masukan apalagi menuntut.
Umar ra berkata:
“Saya marah terhadap istriku, ketika ia membantah pendapatku, saya tidak terima dia meluruskanku. Maka ia berkata; “Mengapa kamu tidak mau menerima pendapatku, demi Allah, bahwa istri-istri Rasulullah memberi pendapatnya kepada beliau, bahkan salah satu dari mereka ngambek dan tidak menyapanya sehari-semalam. Umar berkata; “Saya langsung bergegas menuju rumah Hafshah dan bertanya: “Apakah kamu memberi masukan kepada Rasulullah saw? ia menjawab: Ya. Umar bertanya lagi, “Apakah salah seorang di antara kalian ada yang ngambek dan tidak menegur Rasul selama sehari-semalam? Ia menjawab: Ya. Umar berkata: “Sungguh akan rugi orang yang melakukan demikian di antara kalian.”
✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂
Cara Nabi Meluruskan Keluarganya
✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂
Rasulullah saw tidak pernah menggap sepele kesalahan yang diperbuat oleh salah satu dari istri. Beliau pasti meluruskan dengan cara yang baik.
Diriwayatkan dari Aisyah:
“Saya tidak pernah melihat orang yang lebih baik di dalam membuatkan masakan, selain Shafiyah. Ia membuatkan hidangan untuk Rasulullah saw di rumahku. Seketika saya cemburu dan membanting piring beserta isinya.” Saya menyesal, seraya berkata kepada Rasulullah saw. “Apa kafarat atas perilaku yang saya lakukan?” Rasulullah saw menjawab: “Piring diganti piring, dan makanan diganti makanan.”
Rasulullah saw. menjadi pendengar yang baik. Beliau memberi kesempatan kepada istri-istrinya kebebasan untuk berbicara. Namun beliau tidak toleransi terhadap kesalahan sekecil apa pun. Aisyah berkata kepada Nabi setelah wafatnya Khadijah ra.:
“Kenapa kamu selalu mengenang seorang janda tua, padahal Allah telah memberi ganti kepadamu dengan yang lebih baik.” Maka Rasulullah saw marah, seraya berkata: “Sunggguh, demi Allah, Allah tidak memberi ganti kepadaku yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia menolongku ketika manusia memusuhiku. Saya dikaruniai anak darinya, yang tidak Allah berikan lewat selainnya.”
✔ Pelayan Bagi Keluarganya
Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan khidmah atau pelayanan ketika di dalam rumah. Beliau selalu bermurah hati menolong istri-istrinya jika kondisi menuntut itu. Rasulullah saw bersabda:
“Pelayanan Anda untuk istri Anda adalah sedekah.”
Adalah Rasulullah saw mencuci pakaian, membersihkan sendal dan pekerjaan lainnya yang dibutuhkan oleh anggota keluarganya.
✔ Berhias Untuk Istrinya
Rasulullah saw mengetahu betul kebutuhan sorang wanita untuk berdandan di depan laki-lakinya, begitu juga laki-laki berdandan untuk istrinya. Adalah Rasulullah saw paling tampan, paling rapi di antara manusia lainnya. Beliau menyuruh sahabat-sahabatnya agar berhias untuk istri-istri mereka dan menjaga kebersihan dan kerapihan.
Rasulullah saw bersabda:
“Cucilah baju kalian. Sisirlah rambut kalian. Rapilah, berhiaslah, bersihkanlah diri kalian. Karena Bani Isra’il tidak melaksanakan hal demikian, sehingga wanita-wanita mereka berzina.”
✔ Canda-Ria
Rasulullah saw tidak tidak lupa bermain, bercanda-ria dengan istri-istri beliau, meskipun tanggungjawab dan beban berat di pundaknya. Karena rehat, canda akan menyegarkan suasan hati, menggemberakan jiwa, memperbaharui semangat dan mengembalikan fitalitas fisik.
Dari Aisyah ra berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah saw dalam suatu safar. Kami turun di suatu tempat. Beliau memanggil saya dan berkata: “Ayo adu lari” Aisyah berkata: Kami berdua adu lari dan saya pemenangnya. Pada kesempatan safar yang lain, Rasulullah saw mengajak lomba lari. Aisyah berkata: “Pada kali ini beliau mengalahkanku. Maka Rasulullah saw bersabda: “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan sebelumnya.”
►2. NABI MUHAMMAD SEBAGAI AYAH◄
Ketika kita berbicara kasih sayang dan kelembutan Muhammad saw. terhadap anak-anak, maka tidak akan pernah kita temukan bandingan dan permisalan seperti beliau saw. Banyak peristiwa dalam sirah Nabi yang mempesona berkaitan dengan kasih sayang beliau terhadap anak-anak. Baik beliau sebagai Ayah, Kakek atau Pendidik bagi semua anak-anak. Termasuk kasih sayang beliau terhadap anak-anak non muslim.
“Adalah Muhammad saw. mengangkat dan melempar ke atas putri kecilnya, Fathimah Az Zahra’ ra tinggi-tinggi dan menangkapnya. Beliau melakukan iti beberapa kali, kemudian beliau bersabda, ”Semoga harum namanya dan luas rizkinya.”Muhammad sangat mencintai cucu-cucunya.
Diriwayatkan oleh Jabir, berkata, ”Saya menemui Nabi saw, ketika beliau berjalan merangkak sedangkan di atasnya Hasan dan Husain ra sedang bercanda. Beliau bersabda, ”Seganteng-ganteng orang adalah kalian berdua, dan seadil-adil orang adalah kalian berdua.”
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, berkata, ”Kami shalat Isya’ bersama Nabi. Ketika Nabi sujud, Hasan dan Husain menaiki punggung Nabi. Ketika beliau mengangkat kepalanya, beliau mengambil keduanya dari sisi belakang dengan cara lembut dan menaruh keduanya di lantai. Ketika beliau sujud kembali keduanya mengulangi seperti sebelumnya sampai beliau selesai shalat. Kemudian beliau mendudukkan salah satunya di pahanya.”
Dari Usamah bin Zaid ra, Rasulullah saw mengambil saya dan mendudukkan saya di pahanya sedangkan di paha satunya duduk Hasan ra, kemudian beliau merangkulkan keduanya seraya berdo’a, ”Ya Allah sayangi keduanya, karena saya menyayangi keduanya.”
Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, berkata, ”Adalah Rasulullah saw sedang berkhutbah, ketika itu Hasan dan Husain memakai baju merah berjalan-jalan dan mutar-mutar di dalam masjid. Maka Rasulullah saw. turun dari minbar dan mengambil keduanya, dan menaruhnya di dekatnya seraya bersabda, ”Sungguh benar firman Allah, ”Sesungguhnya harta-harta dan anak-anak kalian adalah fitnah bagi kalian.” Saya lihat kedua anak ini jalan-jalan, sehingga saya tidak bersabar, saya memotong khutbahku agar saya mengambil keduanya.”
Al Aqra’ bin Habis datang menemui Rasulullah saw. Ketika itu ia melihat beliau mencium Hasan bin Ali ra. Maka saya bertanya, ”Apakah kalian mencium anak-anak kalian?” Rasulullah saw. menjawab, ”Ya”. Al Aqra’ berkata, ”Sungguh, saya mempunyai sepuluh anak, tidak pernah sekali pun saya mencium salah satu dari mereka.” Maka Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa yang tidak sayang, ia tidak akan disayang.” Muttafaqun ’Alaih.
Perilaku Muhammad saw. yang demikian tidak hanya kepada keluarganya saja, tapi untuk semua anak-anak pada masanya, sampai pembantunya sekalipun.
Adalah Anas Bin Malik memberi kesaksian, ”Saya telah sepuluh tahun menjadi pelayan Rasul, selama itu beliau tidak pernah berkata uf atau hus ata ah kepada saya.” Muhammad saw. sangat menganjurkan agar memberi nama anak dengan sebaik-baik nama, begitu juga beliau sangat tidak setuju dan melarang pemberian nama yang buruk. Kenapa? Karena nama itu jangan sampai mempengaruhi mentalitas anak ketika mereka menginjak dewasa.
Muhammad saw. juga sangat memperhatikan penampilan anak-anak.
Diriwayatkan dari Nafi’ bin Umar, bahwa Nabi saw. melihat anak kecil rambutnya dipotong separuh dan separuh lagi dibiarkan, maka beliau melarang hal yang demikian, seraya bersabda, ”Cukur semuanya atau tidak sama sekali.”
►3.NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI PENDIDIK◄
✔ Percaya Diri & Mandiri
Sirah Nabi telah mengajarkan kepada kita prinsip-prinsip pendidikan, yaitu pentingnya anak-anak memiliki percaya diri, mandiri dan mampu mengemban tanggungjawab di usia dini. Inilah problematika kita sekarang, anak-anak kita kehilangan sikap percaya diri, mandiri dan mental dewasa.
Kita berhajat untuk mengingat peristiwa di mana Muhammad saw. menjadikan Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan kaum muslimin, meskipun usianya masih muda belia. Ketika itu umurnya baru enam belas tahun (16), padahal ada orang yang lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya, seperti Abu bakar, Umar radhiyallahu anhum. Kenapa Muhammad melakukan hal demikian? Adalah karena beliau ingin mengajarkan kepada Zaid rasa percaya diri, dan agar menghilangkan anggapan sebagian orang bahwa Zaid tidak mampu, sekaligus sebagai pembelajaran bagi generasi masanya untuk peduli dengan problematika umat dan berkontribusi menyelesaikannya.
✔ Sikap dan Perilaku
Muhammad saw. mengajarkan dasar-dasar ajaran agama yang lurus kepada anak-anak sejak dini. Beliau mendorong mereka untuk mempelajari etika umum dan perilaku lurus yang orang Barat sekarang menamakannya sebagai ”Seni Etika”.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah, ia berkata: ”Ketika saya masih kecil di asuhan Rasulullah, saya hendak meraih makanan di nampan, maka Rasulullah saw. bersabda, ”Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah apa yang terdekat dari kamu.”
Ketika Husain ra, cucu Nabi hendak makan kurma dari hasil sedekah, maka Rasulullah saw. bersabda, ”Jangan, jangan. Bukankah kamu tahu, bahwa tidak halal bagi kita -keluarga Nabi- sedekah seseorang?
►4.NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI PEDAGANG◄
“ Pedagang yang jujur dan benar nanti di hari kiamat bersama orang-orang yang mati syahid”(HR.Ibnu Majah)
“ para pedagang pada hari kebangkitan akan di bangkitkan sebagai pelaku kejahatan, kecuali mereka bertaqwa kepada Allah, jujur dan selalu berkata benar” (HR. Tarmizi, Ibnu Majah. Darimi dan Baihaqi).
Ada beberapa keistimewaan dari praktek perdagangan yang beliau lakukan sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Diantaranya:
1. Muhammad tidak memulai bisnis dengan modal dana. Bahkan pada saat itu beliau sangat miskin.
2. Beliau tidak memulai bisnis dengan memanfaatkan KKN.
3. Beliau tidak memiliki ilmu manajemen yang rumit bahkan beliau saat itu belum bisa membaca dan menulis.
Lalu bagaimana bisa hanya dengan modal sedemikian minimalnya menurut kaca mata orang awam itu beliau berhasil menjadi pedagang yang besar yang sukses bahkan mampu meluaskan usahanya ke seluruh negeri? Ada beberapa tahapan dan kunci utama:
1. Beliau dikenal sebagai Al ‘Amin, orang yang sangat bisa dipercaya. Beliau menggunakan kepercayaan itu dengan bijaksana, tak pernah menyalahgunakannya.
2. Beliau tidak memiliki hambatan mental (mental blocking) dalam melaksanakan usahanya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kepercayaan orang-orang terhadap beliau.
3. Beliau memulai bisnis dengan menguasai pasar terlebih dahulu. Dengan cara ikut pamannya berdagang, beliau mengetahui di mana membeli barang yang murah dan di mana menjual barang dengan harga yang lebih baik.
4. Setelah menguasai pasar, di Madinah beliau kemudian beralih ke sektor industri pertanian, namun masih tetap melaksanakan kegiatan pemasaran produk dari kaum non muslim di sana. Sehingga bisnis kaum Quraisy saat itu masih dibiarkan berkembang.
5. Dengan bertambahnya tenaga kerja, beliau lalu mulai menyusun tata kerja organisasi “perusahaanya”.
6. Akhirnya para penerusnya (di bidang bisnis) mengembangkan usaha ke seluruh pelosok penjuru.
Nabi Muhammad saw memberikan nasehat kepada seorang pedagang pengecer, tatkala mencampur antara barang yang berkualitas baik dengan yang tidak baik. Dari Abu Urairah : bahwasanya Rasulullah saw pernah melalui suatu onggokan makanan yang bakal di jual, lantas beliau memasukkan tangan beliau kedalam onggokan itu, tiba tiba jari beliau di dalamnya meraba yang basah. Beliau keluarkan jari beliau seraya berkata, mengapakah ini? Jawab yang punya makanan, basah karena hujan ya Rosulullah, beliau bersabda : mengapa tidak engkau taruh di sebelah atas supaya dapat dilihat orang. Barang siapa yang menipu, maka ia bukan umatku (HR. Muslim). Harga yang di tetapkan pedagang, adakalanya terkandung unsur penipuan, ada yang di sadari dan ada pula yang tidak di sadari, misalnya, harga yang di tetapkan berdasarkan negosiasi (tawar meanawar), biasanya di tentukan oleh keahlian pelanggan dalam menawar, bisa jadi harga berbeda untuk barang yang sama, tempat yang sama. Apabila pelanggan bertemu satu sama lain, dengan membeli barang yang sama, tetapi harga berbeda. Pelanggan dengan harga tinggi merasa tertipu.
Allah berfirman, “sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak haknya” (QS. Asy Syu’araa : 181-182).
►5.NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI PANGLIMA PERANG◄
Nabi Muhammad senantiasa mendapat ancaman bahkan upaya pembunuhan dari orang-orang kafir yang menentang dakwahnya. Namun demikian, pengikut Muhammad yang sedikit ketika itu senantiasa membela beliau hingga ke medan peperangan. Mereka rela mati demi membela Nabi Muhammad.
Sejarah telah mencatat kejeniusan dan kehebatan Rasulullah sebagai panglima di bidang militer dan strategi perang, yang tak tertandingi oleh Panglima perang manapun, siapapun dan dalam perang apapun, serta pada waktu kapanpun, baik pada masa lalu, sekarang maupun yang akan datang. Dan fakta-fakta menunjukkan bahwa Rasulullah Sang Panglima telah mempelopori dan menerapkan seluruh “Principles Of War” yang hari ini menjadi rujukan setiap Panglima perang dan tentaranya.
Dari peperangan yang banyak itu, yang paling terkenal hingga sekarang adalah Perang Badar, yakni peperangan antara 300 tentara pimpinan Muhammad melawan 700 tentara kafir Mekah (H.G. Wells, The Outline of History, 1949). Kemenangan yang diraih dalam Perang Badar ini--sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an--tidak terlepas dari bantuan dari 3.000 malaikat yang secara khusus diturunkan oleh Allah dari langit untuk membantu tentara pimpinan Muhammad:
Petunjuk Rasulullah SAW dalam berperang
• Rasulullah saw. menganjurkan berperang pada pagi hari, jika beliau tidak berperang di pagi hari, maka beliau menunda peperangan sampai tergelincir matahari dan angin berhembus.
• Beliau memba’iat para sahabatnya dalam perang agar tidak melarikan diri, terkadang beliau membai’atnya supaya bersedia untuk mati, mereka di bai’at untuk berjihad sebagaimana mereka di bai’at karena untuk islam
• Beliau bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam masalah jihad, ketika bertemu musuh dan ketika memilih posisi.
• Beliau berada di belakang untuk memberikan mereka air minum dalam perjalanannya, beliau membantu yang lemah dan berada di belakang orang-orang yang telah letih tunggangannya (unta atau kuda), Rasulullah saw. Adalah orang yang paling sayang dan ramah buat mereka ketika mereka sedang dalam perjalanan.
• Jika beliau hendak berperang maka beliau menggunakan taktik atau strategi, beliau bersabda: “perang adalah (memerlukan) strategi”.
• Rasulullah saw. Selalu Mengutus mata-mata untuk mengabarkan keadaan musuh.
• Jika beliau telah berhadapan dengan musuhnya, maka beliau berhenti dan berdo’a meminta pertolongan kepada Allah Swt. Beliau dan para sahabatnya memperbanyak mengingat Allah Swt. (berdzikir kepada Allah Swt.) dengan mengecilkan suara mereka.
• Rasulullah saw. Memakai peralatan-peralatannya untuk berperang, beliau memakai baju besi, topi baja dan menyandang pedang, beliau juga membawa busur dan anak panah, serta memakai perisai atau tameng.
• Rasulullah saw. Menertibkan para pasukan dan pertempuran, beliau meletakkan setiap sudut atau segi yang sesuai untuknya, dan beliau memimpin peperangan.
• Jika pasukan telah turun (ke medan perang) maka beliau mengumpulkan mereka atas sebagian yang lain dengan sebagian yang lain, sehingga jika seandainya di bentangkan sebuah kain di atas mereka maka akan meliputi mereka.
• Beliau menertibkan barisan-barisan, dan memerintahkan mereka ketika berperang dengan tangan beliau, dan Rasulullah saw. Bersabda: wahai fulan kamu maju, wahai fulan kamu mundur.
• Beliau senang dengan orang yang berperang di bawah bendera kaumnya.
• Terkadang Rasulullah saw. Menyerang musuhnya di waktu malam, terkadang beliau menyerang mereka di waktu siang hari.
• Dan jika beliau bertemu dengan musuh maka beliau berdo’a:
“Allahumma munzilal kitaab, wa majria ssahaab, wahaazimul ahzaab, ihzimhum wanshurnaa ‘alaihim”.
Artinya: “Ya Allah! Yang telah menurunkan al kitab (al Qur’an), dan yang menggerakkan awan, Yang mengalahkan golongan yang bersekutu (musuh), Kalahkanlah mereka dan berilah kami kemenangan atas mereka”.
Terkadang beliau mengatakan: “Golongan itu pasti akan di kalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang di janjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit”. (QS. Al Qamar: 45-46).
Terkadang beliau mengatakan: “ya Allah! Turunkanlah pertolongan-Mu”. Dan beliau membaca: “Ya Allah! Engkau adalah lenganku (pertolongan-Mu yang ku andalkan dalam menghadapi lawanku) Engkau adalah pembelaku, dengan pertolongan-Mu aku berputar-putar, dengan pertolongan-Mu aku menyergap, dan dengan pertolongan-Mu aku menyerang”.
• Dan jika manusia merasa keletihan (dengan perang yang berkecamuk) beliau mengingatkannya agar bertakwa kepada Allah, dan beliau berada paling dekat dengan musuh.
• Dan jika beliau menemui musuhnya, maka beliau memperkenalkan dirinya, dengan mengatakan: “Saya adalah seorang Nabi dan bukan suatu kebohongan, saya cucu Abdul Muttalib”.
• Rasulullah saw. Senang bersikap bangga diri ketika berada di medan perang (untuk membangkitkan semangat prajuritnya).
• Rasulullah saw. Memakai penjaga, dan ketika turun firman Allah Swt.:
“…Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia…”. (QS. Al Maaidah: 67). Beliau keluar kedepan orang-orang dan mengabarkan hal tersebut, dan mengosongkan penjagaan.
• Dan jika Rasulullah saw. Mengutus sariyyah (pasukan) beliau memberinya wasiat agar bertakwa kepada Allah swt. Beliau bersabda: “berjalanlah dengan Nama Allah, dan di jalan Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah Swt…dan jangan membunuh bayi “.
• Dan beliau melarang untuk membunuh wanita dan anak-anak.
• Dan beliau memerintahkan kepada pimpinan pasukan (yang di utus) agar mendakwahi atau mengajak musuhnya sebelum berperang, dengan menawarkan pilihan yaitu, masuk islam dan berhijrah atau masuk islam tanpa berhijrah, dan mereka seperti orang-orang pedalaman muslim, mereka tidak mempunyai bagian dalam hal ghanimah harta rampasan perang, atau membayar pajak (upeti), dan jika mereka mengabulkannya maka terimalah mereka, dan jika mereka menolak maka mintalah pertolongan kepada Allah Swt. Dan perangilah mereka.
• Terkadang Rasulullah saw. Berperang dengan menggunakan manjanik (alat pelontar batu).
• Rasulullah saw. Melarang dalam peperangan merampas atau merampok dan al mutslah, kata al mutslah ialah: pencemaran nama baik (fitnah) sebelum di bunuh atau setelahnya.
• Rasulullah saw. Melarang membawa al Qur’an ketika hendak bepergian ke daerah musuh.
►NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI "NEGARAWAN"◄
Sebagai kepala Negara Muhammad saw selalu mengedepankan musyawarah,” hal ini dapat dipahami dari firman Allah,
“dan bagi orang-orang yang mematuhi seruan Allah dan mendirikan salat, sedangkan urusan mereka selesaikan/putuskan dengan musyawarah diantara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rezki yang kami berikan mereka.”(QS.Asyuura:38).
Bahkan, dalam musyawarah Muhammad saw mengikuti pendapat suara terbanyak meskipun berbeda pendapat dengan pendapat pribadi beliau dari kutipan tersebut mengandung arti bahwa Muhammad saw sebagai pemimpin Negara dan sekaligus seorang utusan Allah tidak berbuat sewenang-wengan dan memanfaatkan kedudukannya tersebut.
Dan bukti betapa piawainya dan bijaksananya beliau dalam bernegara adalah
✔ Piagam Madinah
Manuskrip sejarah mencatat, awal mula kebijakan politik di dunia yang sesuai dengan prinsip dasar fitrah dan nilai kemanusiaan adalah Piagam Madinah. Konsepsi kebijakan Politik yang dicetuskan Rasulullah dalam Piagam adalah benar-benar menggemparkan para sceientist generasi umat manusia di era berikutnya, bukan hanya sceientist muslim yang terkesimak dengan pesan-pesan dari butir-butir piagam, bahkan orang-orang non muslim yang notabene memusuhi Islam kerap “terjerat” dengan keindahan pesan Piagam Madinah. Namun demikian Kemunculan piagam madinah, jika ditelusuri, bukanlah hasil pemikiran manusia belaka, melainkan terinspirasi dari pesan-pesan al-Quran. Maka sangatlah wajar jika salah satu butir Piagam menunjukkan bahwa kekuasaan tertinggi dalam menentukan hukum adalah Allah dan Rasul-Nya. Karena keindahan pesan-pesan Piagam merupakan turunan dari konsep Al-Quran yang dikejewantahkan dalam realita kehidupan sosial oleh Pembawa rahmat bagi seluruh alam.
Muhammad Ma’ruf Dawalib, menyatakan dalam makalahnya yang disampaikan pada seminar internasional bertemakan “Ar-Ru’ya al-Akhlaqiyah wa as-Siya siyah fil Islam”, di Prancis, 7-10 Desember 1982, bahwa “Dari sudut pandang historis, kita harus melihat bahwa di anatar ajaran agama yang ada, ajaran Islamlah yang paling menjungjung tinggi etika interaksi sosial. Bahkan yang lebih menakjubkan, adalah pesan Piagam yang merupakan representasi pertama dari prinsip-prinsip dasar kehidupan bernegara dan perlindungan hukum manusia di dunia.
Diantara pesan-pesan yang paling mendasar ialah:
1. Penemuan undang-undang secara tertulis yang sesuai dengan tuntutan zaman saat itu.
Kemudian diringi dengan memproklamirkan undang-undang tersebut secara langsung dan terbuka serta penyepakatan untuk menta’atinya secara bersama. Fenomena ini merupakan “peristiwa” baru dalam lintasan panjang sejarah perundang-undangan umat manusia.
2. Piagam
Menyatakan, bahwa hukum yang paling “elegan” untuk menyelesaikan perseteruan umat dan problematika negara adalah Al-Quran dan sunnah.
3. Proklamasi
Toleransi beragama “Dan sesungguhnya Yahudi adalah satu umat dengan kaum muslimin. Bagi kaum Yahudi agama mereka dan bagi kaum muslimin agama mereka. Bagi Orang Yahudi persamaan (hak dan kewajiban) dengan kaum muslimin, tidak boleh dizholimi dan di aniyaya”.
4. Seruan
Bekerjasama; Saling topang-menopang anatara yang kuat dan yang lemah dalam kehidupan bermasyarakat. Serta larangan saling sabot antara peserta Piagam.
5. Menyatakan kewajiban bernegara; Kemanan negara, baik dalam dan luar negeri, adalah tanggung jawab bersama.
Ketika menela’ah lebih dalam –di depan- tentang pesan Paiagam
Madinah, kita akan mengetahui bahwa Rasulullah menjadi pemimpin di Madinah dalam arti yang sangat luas, yaitu sebagai pemimpin agama dan negara. Hal ini mengindikasikan ke-universal-an Islam dalam mengatur setiap sendi kehidupan manusia. Maka Tidak heran jika kemajuan teknologi, ekonomi, politik dan sosial akan tetap relevan jika disandingkan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Sangat tepat jika DR.Yusuf Qardawi mengatakan, salah satu keistimewaan ajaran Islam adalah:
“Mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan pondasi-pondasi ajaran”.
✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏
1.Kekuasaan Tertinggi di Tangan Allah dan Rasul
Butir Piagam Madinah mengabarkan bahwa kebijakan-kebijakan negara harus berjalan seiring pesan al-Quran dan sunnah. Baik hakim atau pun mahkum, mereka terikat dengan batasan-batasan yang ditetapkan oleh “konsep” Jahiliyah. Secara kasat mata para Pejabat Teras memang pemilik kekuasaan, namun pada hakikatnya kekuasaan tersebut berada di bawah kekuasaan tertinggi Pemilik dunia, Allah SWT.
Kekuasaan tertinggi inilah yang memiliki wewenang sesungguhnya akan penentuan mana yang benar dan mana yang salah, mana batasan-batasan kebijakan yang diperbolehkan dan mana yang terlarang. Apa undang-undang yang harus ditetapkan dan apa undang-undang yang tidak layak ditetapkan. Hal ini, karena kebenaran mutlak bukanlah milik manusia, melainkan hanya milik
Allah ta’ala..
Jika penentuan kebenaran adalah otoritas manusia, acap kali terjadi sikap legitimasi atau klaim kebenaran. Kasus penyerangan Afganistan tanpa bukti objektif merupakan pengalaman global dalam tataran dunia internasional akan kleim kebenaran ini.
2.Kebebasan Akidah
Al-Quran walaupun menyeru kepada iman, namun tetap memberikan “nafas” bagi mereka-meraka yang kufur terhadap akidah Islam. Sebenarnya apa makna implisit dari kebebasan akidah yang terkandung dalam piagam madinah?? Mengapa kebebasan akidah menjadi bagian dari pesan “MOU” Rasulullah dengan kaum Yahudi dan Musyrikin??? Bukankah mereka telah
menindas dan menganiaya Rasulullah dan para sahabatnya?? Bukankah Rasulullah dan Sahabatnya terpaksa meninggalkan tanah kelahiran hanya karena kekejaman kafir Quraisy?? Bukankah Rasulullah pernah diboikot oleh kafir Quraisy?? Bukankah mereka selalu berusaha membunuh Rasulullah dan para sahabat?? kemudian mengapa Islam tetap mengusung kebebasan akidah??
1) Al-Quran yang menjadi landasan ajaran Islam, sudah
sedemikian jelas menerangkan mana jalan kebaikan dan mana kesesatan.
Apa sifat-sifat mansuia baik dan apa sifat-sifat manusia buruk, kemana tempat kembali para pelaku kebaikan dan kemana tempat kembali para pelaku kejahatan . Sehingga kejelasan konsep ini sangat mudah untuk diterima akal sehat manusia di seluruh dunia.
2) Benar, Rasulullah di utus untuk menyeru kepada
iman, tapi Rasulullah menggunakan uslubul hiwar dengan seruan
“Bantahlah mereka dengan cara yang baik (an-Nahl 125)”.
Dan yang terpenting, tugas Rasulullah hanyalah menyampaikan bukan memaksa dengan “intimidasi buta”.
“Sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja,
sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka. Ar-Ra’d: 40)”.
“Dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku.
(Qaaf: 45)”.
3) Pada hakikatnya kaum Yahudi dan Masehi serta Musyrikin Arab di zaman Nabi saw, jauh lebih mengenal kejujuran dan amanah Rasulullah saw, sehingga kaum yahudi sendiri menitipkan barang-barangnya kepada Rasulullah saw dan tanpa segan-segan memberikan pinjaman uang kepada Rasulullah saat ia membutuhkan. Kisah dialog anatara Raja Romawi Hereaclus dengan Abu Sofyan juga menjadi saksi sejarah atas kejujuran Rasulullah saw, Dimana dialog tersebut terjadi Ketika Abu Sofyan masih dalam keadaan musyrik dan ketika terjadi perdamaian hudaibiyah. Salah stau pertanyaan yang dilontarkan Hereaclus kepada Abu sofyan adalah; ”Apakah ia pernah berdusta sebelum
ia menyampaikan ajaran tersebut?? Abu Sofyan menjawab “tidak”.
Kejelasan konsep al-Quran, kelembutan uslub dakwah dan kejujuran pembawanya, merupakan hujjah yang teramat kuat akan kebenaran agama Islam.
3.Persamaan dan Hak Asasi Manusia.
Kaum aqolliyat yang hidup di bawah naungan negara Islam, pada
hakikatnya membawa identitas warga negara Islam, karena mereka dianggap bagian dari komponen negara. Maka secara linier hak dan kewajiban mereka sama dengan kaum muslimin.
Mereka sama-sama mendapatkan hak keamaan, pendidikan, kekebasan bersuara dan bekerja, pada waktu yangn sama mereka juga terkena hudud qishas, diyat dan ta’zir jika melanggar aturan pidana yang digariskan negara.
Islam memandang bahwa semua manusia berasal dari satu Pencipta yang sama, yaitu Allah SWT. Unsur penciptaan semua manusia juga sama, yaitu tanah. Bapak dari semua manusia juga kembali kepada hamba yang sama yaitu Adam ‘alaihissalam. Dan manusia akan kembali ke tempat yang sama yaitu kepada Allah swt –terlepas dia akan masuk syurga atau neraka-. Dengan alas an ini, maka keturunan, ras, harta dan kekuasaan-dalam tataran interaksi sosial- tidaklah dapat mengkhususkan hak seseorang dari yang lainnya atau mengkhususkan kewajiban seorang muslim
tanpa non muslim.
Persamaan tidak sebatas dalam lingkaran hak dan kewajiban, namun memiliki makna lebih luas, diantaranya adalah persamaan hukum. Hukum Allah, tidak memandang kaya atau miskin, kuat atau lemah, hakim atau mahkum, muslim atau non muslim.
Sebagian dikutip dari Buku Ensiklopedi Nabi Muhammad.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)
►1.NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI SUAMI◄
Rasulullah adalah seorang suami yang pandai dalam mengatur urusan rumah tangga yang di dalamnya terdapat beberapa istri yang mempunyai karakter, latar belakang, dan usia yang berbeda-beda.
✔ Bersikap Adil
Nabi Muhammad saw. sangat memperhatikan perilaku adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal, termasuk sesuatu yang remeh dan sepele. Beliau adil terhadap istri-istrinya dalam pemberian tempat tinggal, nafkah, pembagian bermalam, dan jadwal berkunjung. Beliau ketika bertandang ke salah satu rumah istrinya, setelah itu beliau berkunjung ke rumah istri-istri beliau yang lain..
Soal cinta, beliau lebih mencintai Aisyah dibanding istri-istri beliau yang lain, namun beliau tidak pernah membedakan Aisyah dengan yang lain selamanya. Meskipun di sisi lain, beliau beristighfar kepada Allah swt karena tidak bisa berlaku adil di dalam membagi cinta atau perasaan hati kepada istri-istrinya, karena persoalan yang satu ini adalah hak preogratif Allah swt. saja. Rasulullah saw. bersabda:
“Ya Allah, inilah pembagianku yang saya bisa. Maka jangan cela aku atas apa yang aku tidak kuasa.”
✔ Bermusyawarah Dengan Para Istrinya.
Rasulullah saw mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan. Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka. Padahal wanita pada masa jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata, dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan urusan yang langsung dan khusus dengannya.
Islam datang mengangkat martabat wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak qawamah atau kepemimpinan keluarga, berada ditangan laki-laki.
Allah swt berfirman:
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Al Baqarah:228.
✔ Lapang Dada dan Penyayang
Istri-istri Rasulullah saw memberi masukan tentang suatu hal kepada Nabi, beliau menerima dan memberlakukan mereka dengan lembut. Beliau tidak pernah memukul salah seorang dari mereka sekali pun. Belum pernah terjadi demikian sebelum datangnya Islam. Perempuan sebelum Islam tidak punya hak bertanya, mendiskusikan dan memberi masukan apalagi menuntut.
Umar ra berkata:
“Saya marah terhadap istriku, ketika ia membantah pendapatku, saya tidak terima dia meluruskanku. Maka ia berkata; “Mengapa kamu tidak mau menerima pendapatku, demi Allah, bahwa istri-istri Rasulullah memberi pendapatnya kepada beliau, bahkan salah satu dari mereka ngambek dan tidak menyapanya sehari-semalam. Umar berkata; “Saya langsung bergegas menuju rumah Hafshah dan bertanya: “Apakah kamu memberi masukan kepada Rasulullah saw? ia menjawab: Ya. Umar bertanya lagi, “Apakah salah seorang di antara kalian ada yang ngambek dan tidak menegur Rasul selama sehari-semalam? Ia menjawab: Ya. Umar berkata: “Sungguh akan rugi orang yang melakukan demikian di antara kalian.”
✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂
Cara Nabi Meluruskan Keluarganya
✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂✂
Rasulullah saw tidak pernah menggap sepele kesalahan yang diperbuat oleh salah satu dari istri. Beliau pasti meluruskan dengan cara yang baik.
Diriwayatkan dari Aisyah:
“Saya tidak pernah melihat orang yang lebih baik di dalam membuatkan masakan, selain Shafiyah. Ia membuatkan hidangan untuk Rasulullah saw di rumahku. Seketika saya cemburu dan membanting piring beserta isinya.” Saya menyesal, seraya berkata kepada Rasulullah saw. “Apa kafarat atas perilaku yang saya lakukan?” Rasulullah saw menjawab: “Piring diganti piring, dan makanan diganti makanan.”
Rasulullah saw. menjadi pendengar yang baik. Beliau memberi kesempatan kepada istri-istrinya kebebasan untuk berbicara. Namun beliau tidak toleransi terhadap kesalahan sekecil apa pun. Aisyah berkata kepada Nabi setelah wafatnya Khadijah ra.:
“Kenapa kamu selalu mengenang seorang janda tua, padahal Allah telah memberi ganti kepadamu dengan yang lebih baik.” Maka Rasulullah saw marah, seraya berkata: “Sunggguh, demi Allah, Allah tidak memberi ganti kepadaku yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia menolongku ketika manusia memusuhiku. Saya dikaruniai anak darinya, yang tidak Allah berikan lewat selainnya.”
✔ Pelayan Bagi Keluarganya
Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan khidmah atau pelayanan ketika di dalam rumah. Beliau selalu bermurah hati menolong istri-istrinya jika kondisi menuntut itu. Rasulullah saw bersabda:
“Pelayanan Anda untuk istri Anda adalah sedekah.”
Adalah Rasulullah saw mencuci pakaian, membersihkan sendal dan pekerjaan lainnya yang dibutuhkan oleh anggota keluarganya.
✔ Berhias Untuk Istrinya
Rasulullah saw mengetahu betul kebutuhan sorang wanita untuk berdandan di depan laki-lakinya, begitu juga laki-laki berdandan untuk istrinya. Adalah Rasulullah saw paling tampan, paling rapi di antara manusia lainnya. Beliau menyuruh sahabat-sahabatnya agar berhias untuk istri-istri mereka dan menjaga kebersihan dan kerapihan.
Rasulullah saw bersabda:
“Cucilah baju kalian. Sisirlah rambut kalian. Rapilah, berhiaslah, bersihkanlah diri kalian. Karena Bani Isra’il tidak melaksanakan hal demikian, sehingga wanita-wanita mereka berzina.”
✔ Canda-Ria
Rasulullah saw tidak tidak lupa bermain, bercanda-ria dengan istri-istri beliau, meskipun tanggungjawab dan beban berat di pundaknya. Karena rehat, canda akan menyegarkan suasan hati, menggemberakan jiwa, memperbaharui semangat dan mengembalikan fitalitas fisik.
Dari Aisyah ra berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah saw dalam suatu safar. Kami turun di suatu tempat. Beliau memanggil saya dan berkata: “Ayo adu lari” Aisyah berkata: Kami berdua adu lari dan saya pemenangnya. Pada kesempatan safar yang lain, Rasulullah saw mengajak lomba lari. Aisyah berkata: “Pada kali ini beliau mengalahkanku. Maka Rasulullah saw bersabda: “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan sebelumnya.”
►2. NABI MUHAMMAD SEBAGAI AYAH◄
Ketika kita berbicara kasih sayang dan kelembutan Muhammad saw. terhadap anak-anak, maka tidak akan pernah kita temukan bandingan dan permisalan seperti beliau saw. Banyak peristiwa dalam sirah Nabi yang mempesona berkaitan dengan kasih sayang beliau terhadap anak-anak. Baik beliau sebagai Ayah, Kakek atau Pendidik bagi semua anak-anak. Termasuk kasih sayang beliau terhadap anak-anak non muslim.
“Adalah Muhammad saw. mengangkat dan melempar ke atas putri kecilnya, Fathimah Az Zahra’ ra tinggi-tinggi dan menangkapnya. Beliau melakukan iti beberapa kali, kemudian beliau bersabda, ”Semoga harum namanya dan luas rizkinya.”Muhammad sangat mencintai cucu-cucunya.
Diriwayatkan oleh Jabir, berkata, ”Saya menemui Nabi saw, ketika beliau berjalan merangkak sedangkan di atasnya Hasan dan Husain ra sedang bercanda. Beliau bersabda, ”Seganteng-ganteng orang adalah kalian berdua, dan seadil-adil orang adalah kalian berdua.”
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, berkata, ”Kami shalat Isya’ bersama Nabi. Ketika Nabi sujud, Hasan dan Husain menaiki punggung Nabi. Ketika beliau mengangkat kepalanya, beliau mengambil keduanya dari sisi belakang dengan cara lembut dan menaruh keduanya di lantai. Ketika beliau sujud kembali keduanya mengulangi seperti sebelumnya sampai beliau selesai shalat. Kemudian beliau mendudukkan salah satunya di pahanya.”
Dari Usamah bin Zaid ra, Rasulullah saw mengambil saya dan mendudukkan saya di pahanya sedangkan di paha satunya duduk Hasan ra, kemudian beliau merangkulkan keduanya seraya berdo’a, ”Ya Allah sayangi keduanya, karena saya menyayangi keduanya.”
Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, berkata, ”Adalah Rasulullah saw sedang berkhutbah, ketika itu Hasan dan Husain memakai baju merah berjalan-jalan dan mutar-mutar di dalam masjid. Maka Rasulullah saw. turun dari minbar dan mengambil keduanya, dan menaruhnya di dekatnya seraya bersabda, ”Sungguh benar firman Allah, ”Sesungguhnya harta-harta dan anak-anak kalian adalah fitnah bagi kalian.” Saya lihat kedua anak ini jalan-jalan, sehingga saya tidak bersabar, saya memotong khutbahku agar saya mengambil keduanya.”
Al Aqra’ bin Habis datang menemui Rasulullah saw. Ketika itu ia melihat beliau mencium Hasan bin Ali ra. Maka saya bertanya, ”Apakah kalian mencium anak-anak kalian?” Rasulullah saw. menjawab, ”Ya”. Al Aqra’ berkata, ”Sungguh, saya mempunyai sepuluh anak, tidak pernah sekali pun saya mencium salah satu dari mereka.” Maka Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa yang tidak sayang, ia tidak akan disayang.” Muttafaqun ’Alaih.
Perilaku Muhammad saw. yang demikian tidak hanya kepada keluarganya saja, tapi untuk semua anak-anak pada masanya, sampai pembantunya sekalipun.
Adalah Anas Bin Malik memberi kesaksian, ”Saya telah sepuluh tahun menjadi pelayan Rasul, selama itu beliau tidak pernah berkata uf atau hus ata ah kepada saya.” Muhammad saw. sangat menganjurkan agar memberi nama anak dengan sebaik-baik nama, begitu juga beliau sangat tidak setuju dan melarang pemberian nama yang buruk. Kenapa? Karena nama itu jangan sampai mempengaruhi mentalitas anak ketika mereka menginjak dewasa.
Muhammad saw. juga sangat memperhatikan penampilan anak-anak.
Diriwayatkan dari Nafi’ bin Umar, bahwa Nabi saw. melihat anak kecil rambutnya dipotong separuh dan separuh lagi dibiarkan, maka beliau melarang hal yang demikian, seraya bersabda, ”Cukur semuanya atau tidak sama sekali.”
►3.NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI PENDIDIK◄
✔ Percaya Diri & Mandiri
Sirah Nabi telah mengajarkan kepada kita prinsip-prinsip pendidikan, yaitu pentingnya anak-anak memiliki percaya diri, mandiri dan mampu mengemban tanggungjawab di usia dini. Inilah problematika kita sekarang, anak-anak kita kehilangan sikap percaya diri, mandiri dan mental dewasa.
Kita berhajat untuk mengingat peristiwa di mana Muhammad saw. menjadikan Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan kaum muslimin, meskipun usianya masih muda belia. Ketika itu umurnya baru enam belas tahun (16), padahal ada orang yang lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya, seperti Abu bakar, Umar radhiyallahu anhum. Kenapa Muhammad melakukan hal demikian? Adalah karena beliau ingin mengajarkan kepada Zaid rasa percaya diri, dan agar menghilangkan anggapan sebagian orang bahwa Zaid tidak mampu, sekaligus sebagai pembelajaran bagi generasi masanya untuk peduli dengan problematika umat dan berkontribusi menyelesaikannya.
✔ Sikap dan Perilaku
Muhammad saw. mengajarkan dasar-dasar ajaran agama yang lurus kepada anak-anak sejak dini. Beliau mendorong mereka untuk mempelajari etika umum dan perilaku lurus yang orang Barat sekarang menamakannya sebagai ”Seni Etika”.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah, ia berkata: ”Ketika saya masih kecil di asuhan Rasulullah, saya hendak meraih makanan di nampan, maka Rasulullah saw. bersabda, ”Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah apa yang terdekat dari kamu.”
Ketika Husain ra, cucu Nabi hendak makan kurma dari hasil sedekah, maka Rasulullah saw. bersabda, ”Jangan, jangan. Bukankah kamu tahu, bahwa tidak halal bagi kita -keluarga Nabi- sedekah seseorang?
►4.NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI PEDAGANG◄
“ Pedagang yang jujur dan benar nanti di hari kiamat bersama orang-orang yang mati syahid”(HR.Ibnu Majah)
“ para pedagang pada hari kebangkitan akan di bangkitkan sebagai pelaku kejahatan, kecuali mereka bertaqwa kepada Allah, jujur dan selalu berkata benar” (HR. Tarmizi, Ibnu Majah. Darimi dan Baihaqi).
Ada beberapa keistimewaan dari praktek perdagangan yang beliau lakukan sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Diantaranya:
1. Muhammad tidak memulai bisnis dengan modal dana. Bahkan pada saat itu beliau sangat miskin.
2. Beliau tidak memulai bisnis dengan memanfaatkan KKN.
3. Beliau tidak memiliki ilmu manajemen yang rumit bahkan beliau saat itu belum bisa membaca dan menulis.
Lalu bagaimana bisa hanya dengan modal sedemikian minimalnya menurut kaca mata orang awam itu beliau berhasil menjadi pedagang yang besar yang sukses bahkan mampu meluaskan usahanya ke seluruh negeri? Ada beberapa tahapan dan kunci utama:
1. Beliau dikenal sebagai Al ‘Amin, orang yang sangat bisa dipercaya. Beliau menggunakan kepercayaan itu dengan bijaksana, tak pernah menyalahgunakannya.
2. Beliau tidak memiliki hambatan mental (mental blocking) dalam melaksanakan usahanya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kepercayaan orang-orang terhadap beliau.
3. Beliau memulai bisnis dengan menguasai pasar terlebih dahulu. Dengan cara ikut pamannya berdagang, beliau mengetahui di mana membeli barang yang murah dan di mana menjual barang dengan harga yang lebih baik.
4. Setelah menguasai pasar, di Madinah beliau kemudian beralih ke sektor industri pertanian, namun masih tetap melaksanakan kegiatan pemasaran produk dari kaum non muslim di sana. Sehingga bisnis kaum Quraisy saat itu masih dibiarkan berkembang.
5. Dengan bertambahnya tenaga kerja, beliau lalu mulai menyusun tata kerja organisasi “perusahaanya”.
6. Akhirnya para penerusnya (di bidang bisnis) mengembangkan usaha ke seluruh pelosok penjuru.
Nabi Muhammad saw memberikan nasehat kepada seorang pedagang pengecer, tatkala mencampur antara barang yang berkualitas baik dengan yang tidak baik. Dari Abu Urairah : bahwasanya Rasulullah saw pernah melalui suatu onggokan makanan yang bakal di jual, lantas beliau memasukkan tangan beliau kedalam onggokan itu, tiba tiba jari beliau di dalamnya meraba yang basah. Beliau keluarkan jari beliau seraya berkata, mengapakah ini? Jawab yang punya makanan, basah karena hujan ya Rosulullah, beliau bersabda : mengapa tidak engkau taruh di sebelah atas supaya dapat dilihat orang. Barang siapa yang menipu, maka ia bukan umatku (HR. Muslim). Harga yang di tetapkan pedagang, adakalanya terkandung unsur penipuan, ada yang di sadari dan ada pula yang tidak di sadari, misalnya, harga yang di tetapkan berdasarkan negosiasi (tawar meanawar), biasanya di tentukan oleh keahlian pelanggan dalam menawar, bisa jadi harga berbeda untuk barang yang sama, tempat yang sama. Apabila pelanggan bertemu satu sama lain, dengan membeli barang yang sama, tetapi harga berbeda. Pelanggan dengan harga tinggi merasa tertipu.
Allah berfirman, “sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak haknya” (QS. Asy Syu’araa : 181-182).
►5.NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI PANGLIMA PERANG◄
Nabi Muhammad senantiasa mendapat ancaman bahkan upaya pembunuhan dari orang-orang kafir yang menentang dakwahnya. Namun demikian, pengikut Muhammad yang sedikit ketika itu senantiasa membela beliau hingga ke medan peperangan. Mereka rela mati demi membela Nabi Muhammad.
Sejarah telah mencatat kejeniusan dan kehebatan Rasulullah sebagai panglima di bidang militer dan strategi perang, yang tak tertandingi oleh Panglima perang manapun, siapapun dan dalam perang apapun, serta pada waktu kapanpun, baik pada masa lalu, sekarang maupun yang akan datang. Dan fakta-fakta menunjukkan bahwa Rasulullah Sang Panglima telah mempelopori dan menerapkan seluruh “Principles Of War” yang hari ini menjadi rujukan setiap Panglima perang dan tentaranya.
Dari peperangan yang banyak itu, yang paling terkenal hingga sekarang adalah Perang Badar, yakni peperangan antara 300 tentara pimpinan Muhammad melawan 700 tentara kafir Mekah (H.G. Wells, The Outline of History, 1949). Kemenangan yang diraih dalam Perang Badar ini--sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an--tidak terlepas dari bantuan dari 3.000 malaikat yang secara khusus diturunkan oleh Allah dari langit untuk membantu tentara pimpinan Muhammad:
Petunjuk Rasulullah SAW dalam berperang
• Rasulullah saw. menganjurkan berperang pada pagi hari, jika beliau tidak berperang di pagi hari, maka beliau menunda peperangan sampai tergelincir matahari dan angin berhembus.
• Beliau memba’iat para sahabatnya dalam perang agar tidak melarikan diri, terkadang beliau membai’atnya supaya bersedia untuk mati, mereka di bai’at untuk berjihad sebagaimana mereka di bai’at karena untuk islam
• Beliau bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam masalah jihad, ketika bertemu musuh dan ketika memilih posisi.
• Beliau berada di belakang untuk memberikan mereka air minum dalam perjalanannya, beliau membantu yang lemah dan berada di belakang orang-orang yang telah letih tunggangannya (unta atau kuda), Rasulullah saw. Adalah orang yang paling sayang dan ramah buat mereka ketika mereka sedang dalam perjalanan.
• Jika beliau hendak berperang maka beliau menggunakan taktik atau strategi, beliau bersabda: “perang adalah (memerlukan) strategi”.
• Rasulullah saw. Selalu Mengutus mata-mata untuk mengabarkan keadaan musuh.
• Jika beliau telah berhadapan dengan musuhnya, maka beliau berhenti dan berdo’a meminta pertolongan kepada Allah Swt. Beliau dan para sahabatnya memperbanyak mengingat Allah Swt. (berdzikir kepada Allah Swt.) dengan mengecilkan suara mereka.
• Rasulullah saw. Memakai peralatan-peralatannya untuk berperang, beliau memakai baju besi, topi baja dan menyandang pedang, beliau juga membawa busur dan anak panah, serta memakai perisai atau tameng.
• Rasulullah saw. Menertibkan para pasukan dan pertempuran, beliau meletakkan setiap sudut atau segi yang sesuai untuknya, dan beliau memimpin peperangan.
• Jika pasukan telah turun (ke medan perang) maka beliau mengumpulkan mereka atas sebagian yang lain dengan sebagian yang lain, sehingga jika seandainya di bentangkan sebuah kain di atas mereka maka akan meliputi mereka.
• Beliau menertibkan barisan-barisan, dan memerintahkan mereka ketika berperang dengan tangan beliau, dan Rasulullah saw. Bersabda: wahai fulan kamu maju, wahai fulan kamu mundur.
• Beliau senang dengan orang yang berperang di bawah bendera kaumnya.
• Terkadang Rasulullah saw. Menyerang musuhnya di waktu malam, terkadang beliau menyerang mereka di waktu siang hari.
• Dan jika beliau bertemu dengan musuh maka beliau berdo’a:
“Allahumma munzilal kitaab, wa majria ssahaab, wahaazimul ahzaab, ihzimhum wanshurnaa ‘alaihim”.
Artinya: “Ya Allah! Yang telah menurunkan al kitab (al Qur’an), dan yang menggerakkan awan, Yang mengalahkan golongan yang bersekutu (musuh), Kalahkanlah mereka dan berilah kami kemenangan atas mereka”.
Terkadang beliau mengatakan: “Golongan itu pasti akan di kalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang di janjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit”. (QS. Al Qamar: 45-46).
Terkadang beliau mengatakan: “ya Allah! Turunkanlah pertolongan-Mu”. Dan beliau membaca: “Ya Allah! Engkau adalah lenganku (pertolongan-Mu yang ku andalkan dalam menghadapi lawanku) Engkau adalah pembelaku, dengan pertolongan-Mu aku berputar-putar, dengan pertolongan-Mu aku menyergap, dan dengan pertolongan-Mu aku menyerang”.
• Dan jika manusia merasa keletihan (dengan perang yang berkecamuk) beliau mengingatkannya agar bertakwa kepada Allah, dan beliau berada paling dekat dengan musuh.
• Dan jika beliau menemui musuhnya, maka beliau memperkenalkan dirinya, dengan mengatakan: “Saya adalah seorang Nabi dan bukan suatu kebohongan, saya cucu Abdul Muttalib”.
• Rasulullah saw. Senang bersikap bangga diri ketika berada di medan perang (untuk membangkitkan semangat prajuritnya).
• Rasulullah saw. Memakai penjaga, dan ketika turun firman Allah Swt.:
“…Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia…”. (QS. Al Maaidah: 67). Beliau keluar kedepan orang-orang dan mengabarkan hal tersebut, dan mengosongkan penjagaan.
• Dan jika Rasulullah saw. Mengutus sariyyah (pasukan) beliau memberinya wasiat agar bertakwa kepada Allah swt. Beliau bersabda: “berjalanlah dengan Nama Allah, dan di jalan Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah Swt…dan jangan membunuh bayi “.
• Dan beliau melarang untuk membunuh wanita dan anak-anak.
• Dan beliau memerintahkan kepada pimpinan pasukan (yang di utus) agar mendakwahi atau mengajak musuhnya sebelum berperang, dengan menawarkan pilihan yaitu, masuk islam dan berhijrah atau masuk islam tanpa berhijrah, dan mereka seperti orang-orang pedalaman muslim, mereka tidak mempunyai bagian dalam hal ghanimah harta rampasan perang, atau membayar pajak (upeti), dan jika mereka mengabulkannya maka terimalah mereka, dan jika mereka menolak maka mintalah pertolongan kepada Allah Swt. Dan perangilah mereka.
• Terkadang Rasulullah saw. Berperang dengan menggunakan manjanik (alat pelontar batu).
• Rasulullah saw. Melarang dalam peperangan merampas atau merampok dan al mutslah, kata al mutslah ialah: pencemaran nama baik (fitnah) sebelum di bunuh atau setelahnya.
• Rasulullah saw. Melarang membawa al Qur’an ketika hendak bepergian ke daerah musuh.
►NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI "NEGARAWAN"◄
Sebagai kepala Negara Muhammad saw selalu mengedepankan musyawarah,” hal ini dapat dipahami dari firman Allah,
“dan bagi orang-orang yang mematuhi seruan Allah dan mendirikan salat, sedangkan urusan mereka selesaikan/putuskan dengan musyawarah diantara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rezki yang kami berikan mereka.”(QS.Asyuura:38).
Bahkan, dalam musyawarah Muhammad saw mengikuti pendapat suara terbanyak meskipun berbeda pendapat dengan pendapat pribadi beliau dari kutipan tersebut mengandung arti bahwa Muhammad saw sebagai pemimpin Negara dan sekaligus seorang utusan Allah tidak berbuat sewenang-wengan dan memanfaatkan kedudukannya tersebut.
Dan bukti betapa piawainya dan bijaksananya beliau dalam bernegara adalah
✔ Piagam Madinah
Manuskrip sejarah mencatat, awal mula kebijakan politik di dunia yang sesuai dengan prinsip dasar fitrah dan nilai kemanusiaan adalah Piagam Madinah. Konsepsi kebijakan Politik yang dicetuskan Rasulullah dalam Piagam adalah benar-benar menggemparkan para sceientist generasi umat manusia di era berikutnya, bukan hanya sceientist muslim yang terkesimak dengan pesan-pesan dari butir-butir piagam, bahkan orang-orang non muslim yang notabene memusuhi Islam kerap “terjerat” dengan keindahan pesan Piagam Madinah. Namun demikian Kemunculan piagam madinah, jika ditelusuri, bukanlah hasil pemikiran manusia belaka, melainkan terinspirasi dari pesan-pesan al-Quran. Maka sangatlah wajar jika salah satu butir Piagam menunjukkan bahwa kekuasaan tertinggi dalam menentukan hukum adalah Allah dan Rasul-Nya. Karena keindahan pesan-pesan Piagam merupakan turunan dari konsep Al-Quran yang dikejewantahkan dalam realita kehidupan sosial oleh Pembawa rahmat bagi seluruh alam.
Muhammad Ma’ruf Dawalib, menyatakan dalam makalahnya yang disampaikan pada seminar internasional bertemakan “Ar-Ru’ya al-Akhlaqiyah wa as-Siya siyah fil Islam”, di Prancis, 7-10 Desember 1982, bahwa “Dari sudut pandang historis, kita harus melihat bahwa di anatar ajaran agama yang ada, ajaran Islamlah yang paling menjungjung tinggi etika interaksi sosial. Bahkan yang lebih menakjubkan, adalah pesan Piagam yang merupakan representasi pertama dari prinsip-prinsip dasar kehidupan bernegara dan perlindungan hukum manusia di dunia.
Diantara pesan-pesan yang paling mendasar ialah:
1. Penemuan undang-undang secara tertulis yang sesuai dengan tuntutan zaman saat itu.
Kemudian diringi dengan memproklamirkan undang-undang tersebut secara langsung dan terbuka serta penyepakatan untuk menta’atinya secara bersama. Fenomena ini merupakan “peristiwa” baru dalam lintasan panjang sejarah perundang-undangan umat manusia.
2. Piagam
Menyatakan, bahwa hukum yang paling “elegan” untuk menyelesaikan perseteruan umat dan problematika negara adalah Al-Quran dan sunnah.
3. Proklamasi
Toleransi beragama “Dan sesungguhnya Yahudi adalah satu umat dengan kaum muslimin. Bagi kaum Yahudi agama mereka dan bagi kaum muslimin agama mereka. Bagi Orang Yahudi persamaan (hak dan kewajiban) dengan kaum muslimin, tidak boleh dizholimi dan di aniyaya”.
4. Seruan
Bekerjasama; Saling topang-menopang anatara yang kuat dan yang lemah dalam kehidupan bermasyarakat. Serta larangan saling sabot antara peserta Piagam.
5. Menyatakan kewajiban bernegara; Kemanan negara, baik dalam dan luar negeri, adalah tanggung jawab bersama.
Ketika menela’ah lebih dalam –di depan- tentang pesan Paiagam
Madinah, kita akan mengetahui bahwa Rasulullah menjadi pemimpin di Madinah dalam arti yang sangat luas, yaitu sebagai pemimpin agama dan negara. Hal ini mengindikasikan ke-universal-an Islam dalam mengatur setiap sendi kehidupan manusia. Maka Tidak heran jika kemajuan teknologi, ekonomi, politik dan sosial akan tetap relevan jika disandingkan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Sangat tepat jika DR.Yusuf Qardawi mengatakan, salah satu keistimewaan ajaran Islam adalah:
“Mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan pondasi-pondasi ajaran”.
✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏
1.Kekuasaan Tertinggi di Tangan Allah dan Rasul
Butir Piagam Madinah mengabarkan bahwa kebijakan-kebijakan negara harus berjalan seiring pesan al-Quran dan sunnah. Baik hakim atau pun mahkum, mereka terikat dengan batasan-batasan yang ditetapkan oleh “konsep” Jahiliyah. Secara kasat mata para Pejabat Teras memang pemilik kekuasaan, namun pada hakikatnya kekuasaan tersebut berada di bawah kekuasaan tertinggi Pemilik dunia, Allah SWT.
Kekuasaan tertinggi inilah yang memiliki wewenang sesungguhnya akan penentuan mana yang benar dan mana yang salah, mana batasan-batasan kebijakan yang diperbolehkan dan mana yang terlarang. Apa undang-undang yang harus ditetapkan dan apa undang-undang yang tidak layak ditetapkan. Hal ini, karena kebenaran mutlak bukanlah milik manusia, melainkan hanya milik
Allah ta’ala..
Jika penentuan kebenaran adalah otoritas manusia, acap kali terjadi sikap legitimasi atau klaim kebenaran. Kasus penyerangan Afganistan tanpa bukti objektif merupakan pengalaman global dalam tataran dunia internasional akan kleim kebenaran ini.
2.Kebebasan Akidah
Al-Quran walaupun menyeru kepada iman, namun tetap memberikan “nafas” bagi mereka-meraka yang kufur terhadap akidah Islam. Sebenarnya apa makna implisit dari kebebasan akidah yang terkandung dalam piagam madinah?? Mengapa kebebasan akidah menjadi bagian dari pesan “MOU” Rasulullah dengan kaum Yahudi dan Musyrikin??? Bukankah mereka telah
menindas dan menganiaya Rasulullah dan para sahabatnya?? Bukankah Rasulullah dan Sahabatnya terpaksa meninggalkan tanah kelahiran hanya karena kekejaman kafir Quraisy?? Bukankah Rasulullah pernah diboikot oleh kafir Quraisy?? Bukankah mereka selalu berusaha membunuh Rasulullah dan para sahabat?? kemudian mengapa Islam tetap mengusung kebebasan akidah??
1) Al-Quran yang menjadi landasan ajaran Islam, sudah
sedemikian jelas menerangkan mana jalan kebaikan dan mana kesesatan.
Apa sifat-sifat mansuia baik dan apa sifat-sifat manusia buruk, kemana tempat kembali para pelaku kebaikan dan kemana tempat kembali para pelaku kejahatan . Sehingga kejelasan konsep ini sangat mudah untuk diterima akal sehat manusia di seluruh dunia.
2) Benar, Rasulullah di utus untuk menyeru kepada
iman, tapi Rasulullah menggunakan uslubul hiwar dengan seruan
“Bantahlah mereka dengan cara yang baik (an-Nahl 125)”.
Dan yang terpenting, tugas Rasulullah hanyalah menyampaikan bukan memaksa dengan “intimidasi buta”.
“Sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja,
sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka. Ar-Ra’d: 40)”.
“Dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku.
(Qaaf: 45)”.
3) Pada hakikatnya kaum Yahudi dan Masehi serta Musyrikin Arab di zaman Nabi saw, jauh lebih mengenal kejujuran dan amanah Rasulullah saw, sehingga kaum yahudi sendiri menitipkan barang-barangnya kepada Rasulullah saw dan tanpa segan-segan memberikan pinjaman uang kepada Rasulullah saat ia membutuhkan. Kisah dialog anatara Raja Romawi Hereaclus dengan Abu Sofyan juga menjadi saksi sejarah atas kejujuran Rasulullah saw, Dimana dialog tersebut terjadi Ketika Abu Sofyan masih dalam keadaan musyrik dan ketika terjadi perdamaian hudaibiyah. Salah stau pertanyaan yang dilontarkan Hereaclus kepada Abu sofyan adalah; ”Apakah ia pernah berdusta sebelum
ia menyampaikan ajaran tersebut?? Abu Sofyan menjawab “tidak”.
Kejelasan konsep al-Quran, kelembutan uslub dakwah dan kejujuran pembawanya, merupakan hujjah yang teramat kuat akan kebenaran agama Islam.
3.Persamaan dan Hak Asasi Manusia.
Kaum aqolliyat yang hidup di bawah naungan negara Islam, pada
hakikatnya membawa identitas warga negara Islam, karena mereka dianggap bagian dari komponen negara. Maka secara linier hak dan kewajiban mereka sama dengan kaum muslimin.
Mereka sama-sama mendapatkan hak keamaan, pendidikan, kekebasan bersuara dan bekerja, pada waktu yangn sama mereka juga terkena hudud qishas, diyat dan ta’zir jika melanggar aturan pidana yang digariskan negara.
Islam memandang bahwa semua manusia berasal dari satu Pencipta yang sama, yaitu Allah SWT. Unsur penciptaan semua manusia juga sama, yaitu tanah. Bapak dari semua manusia juga kembali kepada hamba yang sama yaitu Adam ‘alaihissalam. Dan manusia akan kembali ke tempat yang sama yaitu kepada Allah swt –terlepas dia akan masuk syurga atau neraka-. Dengan alas an ini, maka keturunan, ras, harta dan kekuasaan-dalam tataran interaksi sosial- tidaklah dapat mengkhususkan hak seseorang dari yang lainnya atau mengkhususkan kewajiban seorang muslim
tanpa non muslim.
Persamaan tidak sebatas dalam lingkaran hak dan kewajiban, namun memiliki makna lebih luas, diantaranya adalah persamaan hukum. Hukum Allah, tidak memandang kaya atau miskin, kuat atau lemah, hakim atau mahkum, muslim atau non muslim.
Menjawab Tuduhan Kafir Jika Rasulullah Mati di Racun.
Islam the best
Para penghujat Islam menuduh Rasulullah saw mati di racun berdasarkan hadist ini :
Volume 5, Book 59, Number 713:
Narrated Ibn Abbas:
‘Umar bin Al-Khattab used to let Ibn Abbas sit beside him, so ‘AbdurRahman bin ‘Auf said to ‘Umar, “We have sons similar to him.” ‘Umar replied, “(I respect him) because of his status that you know.” ‘Umar then asked Ibn ‘Abbas about the meaning of this Holy Verse:– “When comes the help of Allah and the conquest of Mecca . . .” (110.1)
Ibn ‘Abbas replied, “That indicated the death of Allah’s Apostle which Allah informed him of.” ‘Umar said, “I do not understand of it except what you understand.”
Narrated ‘Aisha: The Prophet in his ailment in which he died, used to say, “O ‘Aisha! I still feel the pain caused by the food I ate at Khaibar, and at this time, I feel as if my aorta is being cut from that poison.”
Dikisahkan oleh Aisha : Rasulullah dalam keadaan sakit yang menyebabkan kematiannya, biasa berkata, “O, Aisha. Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar dan saat ini, aku merasa seolah-olah urat nadiku terputus akibat racun itu.
Tanggapan_Muslim :
Ini Hadits yang benar
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar Telah menceritakan kepada kami Gundar Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’ad dari Urwah dari Aisyah dia berkata; Aku pernah mendengar bahwa seorang nabi tidak akan meninggal hingga dia di suruh memilih antara dunia dan akhirat. Aisyah berkata; Kemudian ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sakit yang menyebabkan kematiannya, aku mendengar beliau menuturkan dengan terputus-putus, beliau bersabda: Bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih dan mereka itulah sebaik-baik teman. Aisyah berkata; Aku mengira pada waktu itulah beliau diberi pilihan.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Hausyab Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari Bapaknya dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang nabi sakit kecuali akan diberi pilihan antara dunia dan akhirat. Aisyah berkata; Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit yang menyebabkan kematiannya, aku mendengar beliau menuturkan dengan terputus-putus, beliau bersabda: Bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih dan mereka itulah sebaik-baik teman. Maka aku tahu bahwa waktu itu beliau sedang diberi pilihan.
Berikut adalah riwayat tentang perang Khaibar, riwayat Wanita Yahudi yang mencoba membubuhkan racun namun nabi Muhammad selamat, dan riwayat tentang wafatnya nabi.
✔ 1. Mengenai perang di Khaibar :
Dari Anas bin Malik ra., katanya : Rasulullah s.a.w. memasuki Khaibar pagi hari. Waktu itu mereka keluar kelapangan. Setelah mereka melihat beliau mereka berkata :”Muhammad dan tentara”. Lalu mereka segera menempati benteng mereka. Nabi s.a.w mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa :
“Allahu Akbar”! Hancurlah Khaibar! Bila kami duduki lapangan suatu kaum, maka amat buruk pagi hari orang yang diberi peringatan (tetapi) tidak menurut.
(HR. Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a., katanya : Setelah Khaibar diduduki, ada orang yang menghadiahkan daging kambing yang beracun kepada Nabi saw. Lalu beliau bersabda : “ Saya hendak bertanya kepadamu tentang satu hal ! Adakah kamu mau memberikan keterangan yang sebenarnya kepada saya!”. Mereka menjawab : “Ya” Nabi SAW bertanya kepada mereka :”Siapa ayahmu?” mereka itu menjawab :”Si Anu !” Lalu beliau bersabda :” kamu dusta, akan tetapi ayah kamu si “Anu”. Mereka itu berkata :” Benar Tuan!” Beliau bertanya :” Adakah kamu mau menjawab dengan benar kepada saya tentang sesuatu yang saya tanyakan ?” Ya, hai Abu Qasim! Sekiranya kami berdusta, tuan ketahui dusta kami sebagaimana tuan ketahui tentang ayah kami”. Beliau menanyakan kepada mereka : “Siapa ahli neraka”?” Mereka itu menjawab : “Kami berada didalamnya dalam masa yang singkat, kemudian kamu gantikan kami didalamnya”. Nabi saw lalu bersabda :”Kamu akan tetap disika dalam neraka itu, demi Allah! Kami tidak akan pernah menggantikan kamu didalam neraka itu”.
Kemudian beliau bersabda lagi : “ Adakah kamu mau menjawab dengan benar kepada saya tentang sesuatu yang saya tanyakan?” Jawab mereka : “Ya, hai Abu Qasim!” Beliau bertanya : “Adakah kamu isikan racun dalam daging kambing ini?” Jawab mereka :”Ya”. Tanya beliau : “ Apakah yang mendorong kamu berbuat demikian?” Jawab mereka :” Maksud kami ialah, kalau sekiranya tuan seorang pendusta, kami akan senang. Dan kalau sekiranya tuan seorang Nabi, racun itu tidak akan membahayakan tuan.” (HR. Bukhari)
✔ 2. Pembuktian bahwa nabi Muhammad selamat dari racun yang diberikan oleh wanita Yahudi adl :
1. Perang Khaibar terjadi pada tahun 628 M (tahun ke 7 H) dan pada bulan February 629 M - Zul Qa’dah 7 H) Nabi dan kaum Muslimin melaksanakan Umratul Qadha’.
2. Setelah perang Khaibar dapat ditaklukkan, Rasulullah menikah dengan Shafiyah binti Huyaiy bin Akhtab. Pada tahun yang sama.
3. Bulan January 630 M (Ramadhan 8 H) Nabi Muhammad pun masih SEHAT WAL ‘AFIAT. Beliau membuka kota Makkah dan menghancurkan semua berhala-behrhala yang ada disekitar Ka’bah. Peristiwa ini dikenal dengan “FATHUL MAKKAH”.
4. 4 (Empat tahun) dari peristiwa Khaibar Rasulullah masih HIDUP!! Dan pada bulan maret 632M, atau tepatnya Dzulhijjah 10 H) Rasulullah melaksanakan Haji Wada’ bersama-sama dengan kira-kira 114.000,- orang kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji.
5. Pada bulan Mei 632M, atau bulan safar 11 H, Rasulullah menyiapakan Tentara Usamah untuk pergi ke Negri Syam.
6. Pada tgl 7 Juni 632 M atau pada hari senin12 Rabi’ul awal (bertepatan dengan hari kelahiran beliau) Nabi Muhammad wafat.
✔ 3. nabi Muhammad wafat karena sakit biasa dan bukan karena racun: :
Sebelum beliau wafat, Rasulullah tetap melaksanakan Dak’wah :
Dari Aisyah ra., katanya :” Ketika sakit Nabi bertambah berat, beliau meminta kepada semua istri beliau, supaya ia diizinkan selama sakit ia dirawat dirumahku, dan mereka semua mengizinkannya. Lalu Nabi pergi ke rumah Aisyah dipapah oleh dua orang laki-laki, sedangkan kedua belah kaki beliau tercecah menggaris tanah dinatara kedua orang laki-laki itu, yaitu Abbas dan seorang lagi.”
Kata Ubaidillah, “Cerita Aisyah itu kuceritakan kepada Abbas, lalu dia menanyakan kepadaku, tahukah engkau siapa laki-laki yang seorang lagi itu?”
Jawabku, “Tidak!”
Katanya, “Dia adalah Ali”.
Selanjutnya Aisyah menceritakan juga, bahwa setelah nabi saw. berada dirumahnya, sedangkan sakit nabi bertambah keras juga, maka beliau bersabda, “Siramkanlah kepadaku tujuh girbag air yang masih utuh, mudah-mudahan aku segera dapat melaksanakan da’wah kembali kepada orang banyak.”
Lalu Nabi didudukkan kedalam sebuah bak mandi terbuat dari kuningan, kepunyaan hafshah, istri nabi saw, kemudian beliau kami sirami dengan air yang disuruhkan Nabi, sampai beliau memberi isyarat kepada kami, ‘Sudah cukup.”
Sesudah itu beliau pergi ke Mesjid menemui jamaah”
(HR Bukhari)
✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈
Justru orang yang tewas dibunuh akibat dusta yang diucapkan dan karena ajarannya yang dilakukan terjadi pada Paulus dan bukan pada Rasulullah.
Simak ayat berikut :
Ams 19:5 Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.
Lihat kematian tragis orang yang dianggap ‘suci’ oleh kristen :
1. Paulus dari tarsus, orang yang dianggap sebagai ‘rasul’ Dia dipenjarakan selama dua tahun di kota Roma, setelah sebelumnya ditangkap diYerusalem (Kisah Para Rasul 21:30) dan dipenjarakan di Kaisarea (Kisah Para Rasul 23:23-24).
Menurut tradisi, setelah dua tahun Paulus dibebaskan dari penjara Roma dan lantas melakukan perjalanan ke Spanyol, lalu kembali ke Timur, dan kembali lagi ke Roma dimana dia kembali dipenjarakan untuk kedua kalinya. Akhirnya tewas di Roma dengan cara dipenggal, di luar tembok-tembok kota pada tahun 67 selama penindasan oleh Kaisar Nero.
Satu penulis sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan tulisan-tulisannya berdasarkan bukti nyata adalah Eusebius, yang menuliskan bahwa :
1. Matius tewas disika dan dibunuh dengan pedang di Eithopia.
2. Markus tewas setelah badannya diseret hidup2 dengan kuda melalui jalan yang penuh batu hingga akhir ajalnya.
3. Lukas mati digantung di Yunani.
4. Yohanes direbus/ lebih tepatnya digoreng dengan minyak goreng mendidih di roma.
5. Thomas mati ditusuk oleh tombak di India.
Para penghujat Islam menuduh Rasulullah saw mati di racun berdasarkan hadist ini :
Volume 5, Book 59, Number 713:
Narrated Ibn Abbas:
‘Umar bin Al-Khattab used to let Ibn Abbas sit beside him, so ‘AbdurRahman bin ‘Auf said to ‘Umar, “We have sons similar to him.” ‘Umar replied, “(I respect him) because of his status that you know.” ‘Umar then asked Ibn ‘Abbas about the meaning of this Holy Verse:– “When comes the help of Allah and the conquest of Mecca . . .” (110.1)
Ibn ‘Abbas replied, “That indicated the death of Allah’s Apostle which Allah informed him of.” ‘Umar said, “I do not understand of it except what you understand.”
Narrated ‘Aisha: The Prophet in his ailment in which he died, used to say, “O ‘Aisha! I still feel the pain caused by the food I ate at Khaibar, and at this time, I feel as if my aorta is being cut from that poison.”
Dikisahkan oleh Aisha : Rasulullah dalam keadaan sakit yang menyebabkan kematiannya, biasa berkata, “O, Aisha. Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar dan saat ini, aku merasa seolah-olah urat nadiku terputus akibat racun itu.
Tanggapan_Muslim :
Ini Hadits yang benar
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar Telah menceritakan kepada kami Gundar Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’ad dari Urwah dari Aisyah dia berkata; Aku pernah mendengar bahwa seorang nabi tidak akan meninggal hingga dia di suruh memilih antara dunia dan akhirat. Aisyah berkata; Kemudian ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sakit yang menyebabkan kematiannya, aku mendengar beliau menuturkan dengan terputus-putus, beliau bersabda: Bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih dan mereka itulah sebaik-baik teman. Aisyah berkata; Aku mengira pada waktu itulah beliau diberi pilihan.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Hausyab Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari Bapaknya dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang nabi sakit kecuali akan diberi pilihan antara dunia dan akhirat. Aisyah berkata; Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit yang menyebabkan kematiannya, aku mendengar beliau menuturkan dengan terputus-putus, beliau bersabda: Bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih dan mereka itulah sebaik-baik teman. Maka aku tahu bahwa waktu itu beliau sedang diberi pilihan.
Berikut adalah riwayat tentang perang Khaibar, riwayat Wanita Yahudi yang mencoba membubuhkan racun namun nabi Muhammad selamat, dan riwayat tentang wafatnya nabi.
✔ 1. Mengenai perang di Khaibar :
Dari Anas bin Malik ra., katanya : Rasulullah s.a.w. memasuki Khaibar pagi hari. Waktu itu mereka keluar kelapangan. Setelah mereka melihat beliau mereka berkata :”Muhammad dan tentara”. Lalu mereka segera menempati benteng mereka. Nabi s.a.w mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa :
“Allahu Akbar”! Hancurlah Khaibar! Bila kami duduki lapangan suatu kaum, maka amat buruk pagi hari orang yang diberi peringatan (tetapi) tidak menurut.
(HR. Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a., katanya : Setelah Khaibar diduduki, ada orang yang menghadiahkan daging kambing yang beracun kepada Nabi saw. Lalu beliau bersabda : “ Saya hendak bertanya kepadamu tentang satu hal ! Adakah kamu mau memberikan keterangan yang sebenarnya kepada saya!”. Mereka menjawab : “Ya” Nabi SAW bertanya kepada mereka :”Siapa ayahmu?” mereka itu menjawab :”Si Anu !” Lalu beliau bersabda :” kamu dusta, akan tetapi ayah kamu si “Anu”. Mereka itu berkata :” Benar Tuan!” Beliau bertanya :” Adakah kamu mau menjawab dengan benar kepada saya tentang sesuatu yang saya tanyakan ?” Ya, hai Abu Qasim! Sekiranya kami berdusta, tuan ketahui dusta kami sebagaimana tuan ketahui tentang ayah kami”. Beliau menanyakan kepada mereka : “Siapa ahli neraka”?” Mereka itu menjawab : “Kami berada didalamnya dalam masa yang singkat, kemudian kamu gantikan kami didalamnya”. Nabi saw lalu bersabda :”Kamu akan tetap disika dalam neraka itu, demi Allah! Kami tidak akan pernah menggantikan kamu didalam neraka itu”.
Kemudian beliau bersabda lagi : “ Adakah kamu mau menjawab dengan benar kepada saya tentang sesuatu yang saya tanyakan?” Jawab mereka : “Ya, hai Abu Qasim!” Beliau bertanya : “Adakah kamu isikan racun dalam daging kambing ini?” Jawab mereka :”Ya”. Tanya beliau : “ Apakah yang mendorong kamu berbuat demikian?” Jawab mereka :” Maksud kami ialah, kalau sekiranya tuan seorang pendusta, kami akan senang. Dan kalau sekiranya tuan seorang Nabi, racun itu tidak akan membahayakan tuan.” (HR. Bukhari)
✔ 2. Pembuktian bahwa nabi Muhammad selamat dari racun yang diberikan oleh wanita Yahudi adl :
1. Perang Khaibar terjadi pada tahun 628 M (tahun ke 7 H) dan pada bulan February 629 M - Zul Qa’dah 7 H) Nabi dan kaum Muslimin melaksanakan Umratul Qadha’.
2. Setelah perang Khaibar dapat ditaklukkan, Rasulullah menikah dengan Shafiyah binti Huyaiy bin Akhtab. Pada tahun yang sama.
3. Bulan January 630 M (Ramadhan 8 H) Nabi Muhammad pun masih SEHAT WAL ‘AFIAT. Beliau membuka kota Makkah dan menghancurkan semua berhala-behrhala yang ada disekitar Ka’bah. Peristiwa ini dikenal dengan “FATHUL MAKKAH”.
4. 4 (Empat tahun) dari peristiwa Khaibar Rasulullah masih HIDUP!! Dan pada bulan maret 632M, atau tepatnya Dzulhijjah 10 H) Rasulullah melaksanakan Haji Wada’ bersama-sama dengan kira-kira 114.000,- orang kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji.
5. Pada bulan Mei 632M, atau bulan safar 11 H, Rasulullah menyiapakan Tentara Usamah untuk pergi ke Negri Syam.
6. Pada tgl 7 Juni 632 M atau pada hari senin12 Rabi’ul awal (bertepatan dengan hari kelahiran beliau) Nabi Muhammad wafat.
✔ 3. nabi Muhammad wafat karena sakit biasa dan bukan karena racun: :
Sebelum beliau wafat, Rasulullah tetap melaksanakan Dak’wah :
Dari Aisyah ra., katanya :” Ketika sakit Nabi bertambah berat, beliau meminta kepada semua istri beliau, supaya ia diizinkan selama sakit ia dirawat dirumahku, dan mereka semua mengizinkannya. Lalu Nabi pergi ke rumah Aisyah dipapah oleh dua orang laki-laki, sedangkan kedua belah kaki beliau tercecah menggaris tanah dinatara kedua orang laki-laki itu, yaitu Abbas dan seorang lagi.”
Kata Ubaidillah, “Cerita Aisyah itu kuceritakan kepada Abbas, lalu dia menanyakan kepadaku, tahukah engkau siapa laki-laki yang seorang lagi itu?”
Jawabku, “Tidak!”
Katanya, “Dia adalah Ali”.
Selanjutnya Aisyah menceritakan juga, bahwa setelah nabi saw. berada dirumahnya, sedangkan sakit nabi bertambah keras juga, maka beliau bersabda, “Siramkanlah kepadaku tujuh girbag air yang masih utuh, mudah-mudahan aku segera dapat melaksanakan da’wah kembali kepada orang banyak.”
Lalu Nabi didudukkan kedalam sebuah bak mandi terbuat dari kuningan, kepunyaan hafshah, istri nabi saw, kemudian beliau kami sirami dengan air yang disuruhkan Nabi, sampai beliau memberi isyarat kepada kami, ‘Sudah cukup.”
Sesudah itu beliau pergi ke Mesjid menemui jamaah”
(HR Bukhari)
✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈✈
Justru orang yang tewas dibunuh akibat dusta yang diucapkan dan karena ajarannya yang dilakukan terjadi pada Paulus dan bukan pada Rasulullah.
Simak ayat berikut :
Ams 19:5 Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.
Lihat kematian tragis orang yang dianggap ‘suci’ oleh kristen :
1. Paulus dari tarsus, orang yang dianggap sebagai ‘rasul’ Dia dipenjarakan selama dua tahun di kota Roma, setelah sebelumnya ditangkap diYerusalem (Kisah Para Rasul 21:30) dan dipenjarakan di Kaisarea (Kisah Para Rasul 23:23-24).
Menurut tradisi, setelah dua tahun Paulus dibebaskan dari penjara Roma dan lantas melakukan perjalanan ke Spanyol, lalu kembali ke Timur, dan kembali lagi ke Roma dimana dia kembali dipenjarakan untuk kedua kalinya. Akhirnya tewas di Roma dengan cara dipenggal, di luar tembok-tembok kota pada tahun 67 selama penindasan oleh Kaisar Nero.
Satu penulis sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan tulisan-tulisannya berdasarkan bukti nyata adalah Eusebius, yang menuliskan bahwa :
1. Matius tewas disika dan dibunuh dengan pedang di Eithopia.
2. Markus tewas setelah badannya diseret hidup2 dengan kuda melalui jalan yang penuh batu hingga akhir ajalnya.
3. Lukas mati digantung di Yunani.
4. Yohanes direbus/ lebih tepatnya digoreng dengan minyak goreng mendidih di roma.
5. Thomas mati ditusuk oleh tombak di India.
Menjawab Pertanyaan Kafir Tentang Jibril Sebagai Penyampai WahyuNya.
Islam the best
Kafir bertanya :
Dari mana Muhammad saw tau kalau Jibril yang menyampaikan wahyu dari Allah swt?
Jawaban Muslim :
Tentunya petunjuk dari Allah swt dan ingat Nabi Muhammad saw adalah manusia pilihanNya jadi beliau tentu diberi pengetahuan tentang hal2 gaib jauh melebihi umatnya apalagi kafir seperti yang bertanya...
Dan ayat yang menjadi bukti bahwa memang Jibril yang menyampaikan wahyu adalah Qs. Asy-syu'ara' : 192-194 yang artinya :
"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam," (QS.26:192)
"dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),"
(QS.26:193)
"ke dalam hatimu (Muhammad), agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan"
(QS.26:194)
=======
DAN Jibril bukan Allah swt...
"Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.
(Qs. Ali Imran 3: 59)
=======
LIHATLAH Jibril berkata bahwa dia diperintah Allah swt!
Jibril berkata: “Demikianlah. Rabbmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.
(Qs. Maryam 19 : 21)
Kafir bertanya :
Dari mana Muhammad saw tau kalau Jibril yang menyampaikan wahyu dari Allah swt?
Jawaban Muslim :
Tentunya petunjuk dari Allah swt dan ingat Nabi Muhammad saw adalah manusia pilihanNya jadi beliau tentu diberi pengetahuan tentang hal2 gaib jauh melebihi umatnya apalagi kafir seperti yang bertanya...
Dan ayat yang menjadi bukti bahwa memang Jibril yang menyampaikan wahyu adalah Qs. Asy-syu'ara' : 192-194 yang artinya :
"Dan sesungguhnya, Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam," (QS.26:192)
"dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),"
(QS.26:193)
"ke dalam hatimu (Muhammad), agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan"
(QS.26:194)
=======
DAN Jibril bukan Allah swt...
"Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.
(Qs. Ali Imran 3: 59)
=======
LIHATLAH Jibril berkata bahwa dia diperintah Allah swt!
Jibril berkata: “Demikianlah. Rabbmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.
(Qs. Maryam 19 : 21)
Mengupas Tentang kata "Kami" & SumpahNya Di Dalam Al-Qur'an.
Islam the best.
Banyaknya Ayat Al Qur’an tentang Allah dengan menggunakan kata ” KAMI” seringkali dipersoalkan oleh para misionaris maupun penghujat Islam.
Bagi penghujat Islam persoalan Kata Kami di banyak ayat Al Qur’an dituduh sebagai sebagai bukti adanya ayat ayat Al Qur’an yang bertentangan dengan ayat ayat Al Qur’an lainnya yang sangat jelas dan tegas bahwa Allah adalah Esa.
Dan Bagi Misionaris adanya kata kami yang merujuk kepada Allah dijadikan pembenaran kalau ayat ayat Al Qur’an membenarkan konsep ketuhanan Trinitas.
☼ Muslim Menjawab ☼ :
Tuduhan tuduhan tersebut hanya berdasarkan argumentasi yang sangat dangkal dalam memahami kata “KAMI”,yang mereka simpulkan secara absolut bahwa kata kami merujuk kata ganti jamak.
Didalam kitab “Fatawa al Azhar” disebutkan bahwa sesungguhnya Al Qur’an al Karim diturunkan dari sisi Allah swt dengan bahasa arab yang merupakan bahasa Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan diturunkan dengan tingkat balaghah dan kefasehan tertinggi.
Artinya : “Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy Syuara’ : 195)
Dan merupakan suatu kebiasaan dikalangan orang-orang Arab bahwa seorang pembicara mengungkapkan tentang dirinya dengan menggunakan lafazh أنا (saya) dan jika terdapat orang lain bersamanya maka menggunakan lafazh نحن (kami) sebagaimana lafazh نحن (kami) digunakan si pembicara untuk mengagungkan dirinya sendiri. Pengagungan manusia terhadap dirinya sendiri dikarenakan dirinya memiliki berbagai daya tarik untuk diagungkan.
Bisa jadi hal itu dikarenakan dia memiliki jabatan, reputasi, kedudukan atau nasab lalu dia membicarakan tentang dirinya itu sebagai bentuk keagungan dan kebesaran. Bisa jadi juga untuk memberikan perasaan takut didalam hati orang lain seakan-akan dirinya sebanding dengan beberapa orang bukan dengan hanya satu orang. Bisa jadi seseorang mengungkapkan dirinya dengan lafazh نحن (kami) karena begitu banyak keahliannya seakan-akan beberapa orang ada didalam diri satu orang. Sehingga bentuk plural dan jama’ itu adalah pada pengaruhnya bukan pada si pemberi pengaruh.
Bentuk pengagungan diri pembicara atau orang yang diajak bicara terdapat pula didalam bahasa-bahasa lainnya bukan hanya didalam bahasa arab dan digunakan pula untuk tujuan-tujuan seperti disebutkan diatas.
Apabila Allah swt Tuhan Pemilik Keagungan berfirman :
Artinya : “Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka.” (QS. Al Insan : 28)
Posisi Allah di situ sebagai pemberi karunia kepada semua makhluk, pemberi nikmat, memberikan perasaan takut dan membuat lari orang-orang kafir sesuai dengan kata ganti pengagungan terhadap diri-Nya yang memberikan makna kuat dan gagah.
Dan apabila Allah berfirman :
Artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr : 9)
Posisi di situ sebagai pemilik kemampuan yang mampu memberikan ketenangan berupa pemeliharaan Allah terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan dengan kekuasaan dan hikmah-Nya. Dan apabila Allah berfirman :
Artinya : “Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),” (QS. Ghafir : 15)
Allah SWT itu bukan manusia dan bukan pula makhluk hidup dengan jenis kelamin. Maka Dia bukan laki-laki dan juga bukan perempuan, bukan pula banci (na’udzubillah minta dzalik).
Adapun bahasa arab, memang punya 14 dhamir atau kata ganti orang. Mulai dari huwa sampai nahnu. Huwa adalah kata ganti untuk orang ketiga, tunggal dan laki-laki.
Di dalam Al-Quran, penggunaan kata ganti orang ini sering juga diterapkan untuk lafadz Allah SWT. Al-Quran membahasakan Allah dengan kata ganti Dia (huwa). Di mana makna aslinya adalah dia laki-laki satu orang. Tetapi kita tahu bahwa Allah SWT bukan laki-laki dan juga bukan perempuan atau banci.
Kalau ternyata Al-Quran menggunakan kata ganti Allah dengan lafadz huwa, dan bukan hiya (untuk perempuan), sama sekali tidak berarti bahwa Allah itu laki-laki.
Penggunaan kata ganti huwa (yang sebenarnya untuk laki-laki) adalah ragam keistimewaan bahasa arab yang tidak ada seorang pun meragukannya.
Maka demikian pula dengan penggunaan kata nahnu, yang meski secara penggunaan asal katanya untukkata ganti orang pertama, jamak (lebih dari satu), baik laki-laki maupun perempuan, namun sama sekali tidak berarti Allah itu berjumlah banyak.
Orang arab sendiri akan terpingkal-pingkal kalau melihat cara orang Indonesia berusaha menyesatkan orang lain lewat logika aneh bin ajaib seperti ini, yaitu mengatakan Allah itu banyak hanya lantaran di Al-Quran Allah seringkali menggunakan kata ganti kami (nahnu). Betapa kerdilnya logika yang dikembangkan, niatnya mau sok tahu dengan bahasa arab, sementara orang arab sendiri mafhum bahwa bahasa mereka istimewa.
Tidak semua kata nahnu (kami) selalu berarti pelakunya banyak. Memang benar secara umum kata nahnu menunjukkan jumlah yang banyak, tetapi orang yang bodoh dengan bahasa arab terkecoh besar dengan ungkapan ini. Sebenarnya kata kami tidak selalu menunjukkan jumlah yang banyak, tetapi juga menunjukkan kebesaran orang yang menggunakannya.
Misalnya, seorang presiden dari negara arab mengatakan begini, “Kami menyampaikan salam kepada kalian”, apakah berarti jumlah presiden negara itu ada lima orang? Tentu saja tidak. Sebab kata “kami” yang digunakannya menggambarkan kebesaran negara dan bangsanya, bukan menunjukkan jumlah presidennya.
Tukang becak di pinggir jalan pun tahu bahwa yang namanya presiden di semua negara pastilah jumlahnya cuma satu, tidak mungkin ada lima. Hanya orang bodoh saja yang mengatakan presiden ada lima. Dan hanya orang bodoh tidak pernah makan sekolahan saja yang mengatakan bahwa Allah itu ada banyak, hanya gara-gara Dia menyebut dirinya dengan lafadz KAMI.
☼ Menjawab Gugatan Allah yang banyak bersumpah ☼
Para Penghujat Islam sering kali mempersoalkan Tentang Allah yang bersumpah,kemudian mereka benturkan dengan salah satu Ayat Al Qur’an yang melarang mengikuti orang yang banyak bersumpah.
setidaknya di bawah ini adalah Contoh Gugatan Penghujat Islam
Penghujat islam menggugat :
Qs. 68-Al Qalam :10
yang berbunyi:
“Dan janganlah kamu ikuti tiap orang yang banyak bersumpah lagi hina”
Sekarang anda lihat Quran anda, banyak banget segala jenis sumpah di dalamnya sejak awal sampai akhir, nggak kehitung banyaknya kata-kata “Sesungguhnya/Demi” yang artinya bahwa secara tidak langsung Allah bersumpah bahwa melainkan benar-benar dapat dipercaya (seolah-olah Allah ragu-ragu).
Selain kata “sesungguhnya/demi”, masih banyak lagi sumpah-sumpah Allah untuk menyakinkan manusia yang notabene adalah Ciptaan-Nya sendiri Sumpah itu antara lain:
“Demi Allah (Allah yang mana lagi??) demi Alquran yang penuh hikmat, demi langit, demi bintang-bintang, demi angin, demi malam, demi matahari, demi bulan, demi subuh, demi kota Mekkah, demi kuda perang, dan lain-lain sebagainya. Kalo dipikir dengan ratio, apakah perlu Allah bersumpah semacam itu, untuk menyakinkan manusia yang padahal semuanya itu adalah ciptaan-Nya??
☼ Muslim Menjawab ☼ :
Pertanyaan ini juga sering diajukan oleh netters Kristen di forum ini. Biasanya dalam pertanyaan tersebut ada nuansa gugatan :”Koq bisa Tuhan yang Maha Kuasa bersumpah demi sesuatu yang lebih rendah..?? karena sumpah seharusnya dilakukan de…mi hal yang lebih tinggi..”. Dari beberapa kali diskusi, saya menemukan suatu kesimpulan adanya persamaan persepsi dari netters Kristen, ketika terjadi sumpah demi sesuatu, maka sesuatu tersebut diposisikan sebagai pihak yang berkuasa untuk menghakimi si pembuat sumpah apabila isi sumpah yang diucapkan tersebut tidak benar, atau pihak yang bersumpah tidak menepati apa yang disumpahkannya. Jadi ketika mereka menemukan dalam Al-Qur’an, Allah bersumpah demi matahari, bulan, bintang, waktu, langit, dll, maka pertanyaannya :”Mana mungkin matahari berkuasa untuk menghakimi Tuhan, apabila Tuhan tidak menepati apa yang telah disumpahkan-Nya..?”.
Dalam Al-Qur’an kita sering menemukan ayat tentang Allah bersumpah demi sesuatu, baik dengan kalimat yang mencantumkan kata ‘bersumpah’ maupun kata tersebut tersembunyi dan hanya mencantumkan ‘demi sesuatu’. Kedua cara ini adalah sama, bahwa Allah telah bersumpah (soal ini terkait dengan pemakaian kaedah tata-bahasa Arab, dimana sumpah disampaikan dengan memakai 3 alternatif huruf : ‘waw’, ‘ba’ dan ‘ta’.
Pengertian Sumpah dalam Al-Qur’an
Kata ‘sumpah’ berasal dari kata Arab ‘qasam’ yang akar katanya disusun oleh huruf ‘qaf-sin-mim’, kata ini menurunkan beberapa pengertian : to divide, dispose, separate, apportion, distribute..
http://www.studyquran.org/ LaneLexicon/Volume8/ 00000242.pdf
Kata ‘qasam’ diartikan ‘bersumpah’ misalnya terdapat pada ayat :
falaa uqsimu bimawaaqi’i alnnujuumi
[56:75] Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quraan.
falaa uqsimu bialsysyafaqi
[84:16] Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja,
laa uqsimu bihaadzaa albaladi
[90:1] Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah),
Namun kata ‘qasam’ dengan derivasinya juga diartikan membagi, memisahkan, misalnya terdapat pada ayat :
wa-idzaa hadhara alqismata uluu alqurbaa waalyataamaa waalmasaakiinu faurzuquuhum minhu waquuluu lahum qawlan ma’ruufaan
[4:8] Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.
Faalmuqassimaati amraan
[51:4] dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan
tilka idzan qismatun dhiizaa
[53:22] Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.
Muncul pertanyaan :
”Lalu apa hubungannya bersumpah dengan membagi atau memisahkan..??”, apa sebenarnya arti bersumpah ketika ada kalimat ‘Tuhan bersumpah demi makhluk’..?? bagaimana sebenarnya posisi makhluk tersebut dalam sumpah tersebut..?? apakah benar posisinya sebagai pihak yang berkuasa untuk menghakimi pihak yang bersumpah..?? bagaimana halnya ketika Allah bersumpah demi diri-Nya sendiri..??
Kata ‘qasam’ sendiri dalam bahasa Arab setara dengan istilah lain :
Dalam bahasa Arab sumpah disebut dengan al-aimanu, al-halfu, al-qasamu. Al-aimanu jama’ dari kata al-yamiinu (tangan kanan) karena orang Arab di zaman Jahiliyah apabila bersumpah satu sama lain saling berpegangan tangan kanan. Kata al-yamiinu secara etimologis dikaitakan dengan tangan kanan yang bisa berarti al-quwwah (kekuatan), dan al-qasam (sumpah). Dengan demikian pengertian al-yuamiinu merupakan perpaduan dari tiga makna tersebut yang selanjutnya digunakan untuk bersumpah. Dikaitkan dengan kekuatan (al-quwwah), karena orang yang ingin mengatakan atau menyatakan sesuatu dikukuhkan dengan sumpah sehingga pernyataannya lebih kuat sebagaimana tangan kanan lebih kuat dari tangan kiri.
http://bs-ba.facebook.com/ topic.php?uid=53744579012&topic =7485
sehingga selain arti kata : membagi atau memisahkan, ‘bersumpah’ juga mengandung unsur : menguatkan, mengukuhkan.
Yang perlu diperjelas disini adalah, ketika Allah bersumpah dengan nama makhluk-Nya, maka tidak ada suatu kesan yang muncul dari umat Islam, bahwa Allah telah ‘menyerahkan kekuasaan untuk menghakimi’ sumpah-Nya tersebut kepada benda tersebut. Baik didasar sumpah ataupun tidak, ataupun sumpah tersebut dilontarkan oleh siapapun, maka pihak yang berkuasa untuk menghakimi hanyalah Allah. Kalau begitu bagaimanakah sebenarnya ‘status’ makhluk/benda yang terdapat dalam sumpah itu..?? maka posisi makhluk/benda tersebut adalah sebagai SAKSI atas sumpah tersebut, saksi yang dikesankan independen, berdiri sendiri dan terpisah dari pihak yang bersumpah, berfungsi untuk menguatkan dan mengukuhkan bahwa apa yang disampaikan dalam sumpah tersebut benar adanya. Ini terkait dengan tujuan suatu sumpah dilontarkan, yaitu untuk meyakinkan pihak lain atas kebenaran apa yang disumpahkan, dimana pihak lain tersebut ragu-ragu atau tidak percaya. Kesan terpisah ini sejalan dengan tujuan disampaikannya sumpah, sehingga seolah-olah Allah mengatakan ;”Sekalipun Aku adalah Tuhan Yang Maha Berkuasa, namun makhluk/benda yang Aku jadikan objek sumpah-Ku, dipersilahkan memutuskan sendiri kesaksiannya. Apabila Aku telah berbohong atau sumpah-Ku tidak benar, maka Aku sendiri yang akan menghakimi diri-Ku..”.
Pengertian ‘qasam’ ini juga berlaku dalam hal Tuhan bersumpah atas diri-Nya sendiri. Pemisahan diibaratkan ‘posisi’ Tuhan sebagai pihak yang bersumpah dan sebagai pihak yang bersaksi merupakan dua hal yang seolah-olah terpisah, sehingga kesaksian Tuhan adalah adli, kuat dan benar. Ini memenuhi tujuan untuk apa sumpah tersebut dilontarkan, yaitu untuk meyakinkan pihak lain yang tidak percaya dan ragu-ragu. Disinilah kesetaraan antara istilah ‘qasam’ dan ‘aimanu’, yaitu kemandirian sebagai saksi menunjang pengukuhan dan penguatan sumpah yang disampaikan.
Berdasarkan penjelasan ini, pertanyaan dari pihak Kristen sudah bisa dijelaskan, apa yang mereka gugat tentang sumpah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an karena mereka memakai ukuran sendiri tentang apa yang dimaksud dengan sumpah dan subjek sumpah, mengartikan bahwa makhluk/n]benda yang terdapat dalam sumpah adalah sebagai pihak yang berkuasa untuk menghakimi, dan bukan sebagai saksi yang akan memberikan kesaksian terhadap kebenaran sumpah tersebut. Dalam istilah Islam, terlihat bahwa posisinya bukanlah demikian, karena yang berkuasa untuk menghakimi tetap saja ada ditangan Allah, makhluk/benda berfungsi sebagai saksi..
Sekarang muncul pertanyaan : lalu apakah seorang Muslim bisa bersumpah juga demi/dengan nama makhluk selain Allah..?? Terus-terang saya sama sekali tidak menemukan adanya larangan dalam Al-Qur’an tentang ini. Larangan bersumpah demi/dengan/atas mana selain Allah terdapat dalam hadist :
Umar bin Khaththab mendengar seorang laki-laki mengatakan,”Demi Ka’bah” maka ia mengatakan, “Janganlah bersumpah dengan selain Allah, sesungguhnya aku mendengar rasulullah saw bersabda, ‘barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah kufur atau syirik’” (HR Abu dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad)
Dari Umar bin Khaththab, ia berkata; Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nenek moyang kalian” (HR Muslim)
Dan hadits Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang berkata dalam sumpahnya, Demi Latta dan Uzza hendaklah ia menebusnya dengan mengucapkan, ‘Laa Ilaaha Illallaah’.”
Namun ternyata dalam riwayat yang lain, diungkapkan juga bahwa Rasulullah pernah bersumpah demi makhluk selain Allah :
sabda Nabi kepada seorang Arab Badui, “Demi ayahnya, beruntunglah ia jika benar katanya. Demi ayahnya, niscaya ia masuk Jannah jika benar katanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan jawaban beliau kepada orang yang bertanya tentang shadaqah, “Demi ayahmu, engkau akan diberitahu tentang hal itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari sini sebenarnya bisa kita simpulkan bahwa yang dimaksud larangan bersumpah demi nama selain Allah adalah dalam konteks : menjadikan sesuatu selain Allah tersebut sebagai pihak yang berkuasa untuk menghakimi sumpah kita, makanya dalam hadist tersebut dikatakan sebagai syirik, apalagi disampaikan contoh bahwa nama lain selain Allah tersebut adalah Latta dan Uzza, berhala yang sebelumnya disembah oleh kaum musyrik Makkah.
Namun tentu kita harus mensikapinya dengan cara ‘mengambil jalan yang paling aman’, daripada menjadikan makhluk/benda sebagai saksi sumpah kita, akan lebih baik kalau Allah-lah yang kita jadikan saksi, sekaligus pihak yang berkuasa menghakimi sumpah kita. Selain itu jalan yang paling aman, juga terkesan kita sungguh-sungguh melakukan sumpah agar pihak lain yang tidak percaya menjadi yakin dengannya, siapa lagi pihak yang kesaksiannya kuat dan bisa dipercaya melebihi Allah..?? bukankah memang itu tujuan seseorang melakukan sumpah..??
Banyaknya Ayat Al Qur’an tentang Allah dengan menggunakan kata ” KAMI” seringkali dipersoalkan oleh para misionaris maupun penghujat Islam.
Bagi penghujat Islam persoalan Kata Kami di banyak ayat Al Qur’an dituduh sebagai sebagai bukti adanya ayat ayat Al Qur’an yang bertentangan dengan ayat ayat Al Qur’an lainnya yang sangat jelas dan tegas bahwa Allah adalah Esa.
Dan Bagi Misionaris adanya kata kami yang merujuk kepada Allah dijadikan pembenaran kalau ayat ayat Al Qur’an membenarkan konsep ketuhanan Trinitas.
☼ Muslim Menjawab ☼ :
Tuduhan tuduhan tersebut hanya berdasarkan argumentasi yang sangat dangkal dalam memahami kata “KAMI”,yang mereka simpulkan secara absolut bahwa kata kami merujuk kata ganti jamak.
Didalam kitab “Fatawa al Azhar” disebutkan bahwa sesungguhnya Al Qur’an al Karim diturunkan dari sisi Allah swt dengan bahasa arab yang merupakan bahasa Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan diturunkan dengan tingkat balaghah dan kefasehan tertinggi.
Artinya : “Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy Syuara’ : 195)
Dan merupakan suatu kebiasaan dikalangan orang-orang Arab bahwa seorang pembicara mengungkapkan tentang dirinya dengan menggunakan lafazh أنا (saya) dan jika terdapat orang lain bersamanya maka menggunakan lafazh نحن (kami) sebagaimana lafazh نحن (kami) digunakan si pembicara untuk mengagungkan dirinya sendiri. Pengagungan manusia terhadap dirinya sendiri dikarenakan dirinya memiliki berbagai daya tarik untuk diagungkan.
Bisa jadi hal itu dikarenakan dia memiliki jabatan, reputasi, kedudukan atau nasab lalu dia membicarakan tentang dirinya itu sebagai bentuk keagungan dan kebesaran. Bisa jadi juga untuk memberikan perasaan takut didalam hati orang lain seakan-akan dirinya sebanding dengan beberapa orang bukan dengan hanya satu orang. Bisa jadi seseorang mengungkapkan dirinya dengan lafazh نحن (kami) karena begitu banyak keahliannya seakan-akan beberapa orang ada didalam diri satu orang. Sehingga bentuk plural dan jama’ itu adalah pada pengaruhnya bukan pada si pemberi pengaruh.
Bentuk pengagungan diri pembicara atau orang yang diajak bicara terdapat pula didalam bahasa-bahasa lainnya bukan hanya didalam bahasa arab dan digunakan pula untuk tujuan-tujuan seperti disebutkan diatas.
Apabila Allah swt Tuhan Pemilik Keagungan berfirman :
Artinya : “Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka.” (QS. Al Insan : 28)
Posisi Allah di situ sebagai pemberi karunia kepada semua makhluk, pemberi nikmat, memberikan perasaan takut dan membuat lari orang-orang kafir sesuai dengan kata ganti pengagungan terhadap diri-Nya yang memberikan makna kuat dan gagah.
Dan apabila Allah berfirman :
Artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr : 9)
Posisi di situ sebagai pemilik kemampuan yang mampu memberikan ketenangan berupa pemeliharaan Allah terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan dengan kekuasaan dan hikmah-Nya. Dan apabila Allah berfirman :
Artinya : “Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),” (QS. Ghafir : 15)
Allah SWT itu bukan manusia dan bukan pula makhluk hidup dengan jenis kelamin. Maka Dia bukan laki-laki dan juga bukan perempuan, bukan pula banci (na’udzubillah minta dzalik).
Adapun bahasa arab, memang punya 14 dhamir atau kata ganti orang. Mulai dari huwa sampai nahnu. Huwa adalah kata ganti untuk orang ketiga, tunggal dan laki-laki.
Di dalam Al-Quran, penggunaan kata ganti orang ini sering juga diterapkan untuk lafadz Allah SWT. Al-Quran membahasakan Allah dengan kata ganti Dia (huwa). Di mana makna aslinya adalah dia laki-laki satu orang. Tetapi kita tahu bahwa Allah SWT bukan laki-laki dan juga bukan perempuan atau banci.
Kalau ternyata Al-Quran menggunakan kata ganti Allah dengan lafadz huwa, dan bukan hiya (untuk perempuan), sama sekali tidak berarti bahwa Allah itu laki-laki.
Penggunaan kata ganti huwa (yang sebenarnya untuk laki-laki) adalah ragam keistimewaan bahasa arab yang tidak ada seorang pun meragukannya.
Maka demikian pula dengan penggunaan kata nahnu, yang meski secara penggunaan asal katanya untukkata ganti orang pertama, jamak (lebih dari satu), baik laki-laki maupun perempuan, namun sama sekali tidak berarti Allah itu berjumlah banyak.
Orang arab sendiri akan terpingkal-pingkal kalau melihat cara orang Indonesia berusaha menyesatkan orang lain lewat logika aneh bin ajaib seperti ini, yaitu mengatakan Allah itu banyak hanya lantaran di Al-Quran Allah seringkali menggunakan kata ganti kami (nahnu). Betapa kerdilnya logika yang dikembangkan, niatnya mau sok tahu dengan bahasa arab, sementara orang arab sendiri mafhum bahwa bahasa mereka istimewa.
Tidak semua kata nahnu (kami) selalu berarti pelakunya banyak. Memang benar secara umum kata nahnu menunjukkan jumlah yang banyak, tetapi orang yang bodoh dengan bahasa arab terkecoh besar dengan ungkapan ini. Sebenarnya kata kami tidak selalu menunjukkan jumlah yang banyak, tetapi juga menunjukkan kebesaran orang yang menggunakannya.
Misalnya, seorang presiden dari negara arab mengatakan begini, “Kami menyampaikan salam kepada kalian”, apakah berarti jumlah presiden negara itu ada lima orang? Tentu saja tidak. Sebab kata “kami” yang digunakannya menggambarkan kebesaran negara dan bangsanya, bukan menunjukkan jumlah presidennya.
Tukang becak di pinggir jalan pun tahu bahwa yang namanya presiden di semua negara pastilah jumlahnya cuma satu, tidak mungkin ada lima. Hanya orang bodoh saja yang mengatakan presiden ada lima. Dan hanya orang bodoh tidak pernah makan sekolahan saja yang mengatakan bahwa Allah itu ada banyak, hanya gara-gara Dia menyebut dirinya dengan lafadz KAMI.
☼ Menjawab Gugatan Allah yang banyak bersumpah ☼
Para Penghujat Islam sering kali mempersoalkan Tentang Allah yang bersumpah,kemudian mereka benturkan dengan salah satu Ayat Al Qur’an yang melarang mengikuti orang yang banyak bersumpah.
setidaknya di bawah ini adalah Contoh Gugatan Penghujat Islam
Penghujat islam menggugat :
Qs. 68-Al Qalam :10
yang berbunyi:
“Dan janganlah kamu ikuti tiap orang yang banyak bersumpah lagi hina”
Sekarang anda lihat Quran anda, banyak banget segala jenis sumpah di dalamnya sejak awal sampai akhir, nggak kehitung banyaknya kata-kata “Sesungguhnya/Demi” yang artinya bahwa secara tidak langsung Allah bersumpah bahwa melainkan benar-benar dapat dipercaya (seolah-olah Allah ragu-ragu).
Selain kata “sesungguhnya/demi”, masih banyak lagi sumpah-sumpah Allah untuk menyakinkan manusia yang notabene adalah Ciptaan-Nya sendiri Sumpah itu antara lain:
“Demi Allah (Allah yang mana lagi??) demi Alquran yang penuh hikmat, demi langit, demi bintang-bintang, demi angin, demi malam, demi matahari, demi bulan, demi subuh, demi kota Mekkah, demi kuda perang, dan lain-lain sebagainya. Kalo dipikir dengan ratio, apakah perlu Allah bersumpah semacam itu, untuk menyakinkan manusia yang padahal semuanya itu adalah ciptaan-Nya??
☼ Muslim Menjawab ☼ :
Pertanyaan ini juga sering diajukan oleh netters Kristen di forum ini. Biasanya dalam pertanyaan tersebut ada nuansa gugatan :”Koq bisa Tuhan yang Maha Kuasa bersumpah demi sesuatu yang lebih rendah..?? karena sumpah seharusnya dilakukan de…mi hal yang lebih tinggi..”. Dari beberapa kali diskusi, saya menemukan suatu kesimpulan adanya persamaan persepsi dari netters Kristen, ketika terjadi sumpah demi sesuatu, maka sesuatu tersebut diposisikan sebagai pihak yang berkuasa untuk menghakimi si pembuat sumpah apabila isi sumpah yang diucapkan tersebut tidak benar, atau pihak yang bersumpah tidak menepati apa yang disumpahkannya. Jadi ketika mereka menemukan dalam Al-Qur’an, Allah bersumpah demi matahari, bulan, bintang, waktu, langit, dll, maka pertanyaannya :”Mana mungkin matahari berkuasa untuk menghakimi Tuhan, apabila Tuhan tidak menepati apa yang telah disumpahkan-Nya..?”.
Dalam Al-Qur’an kita sering menemukan ayat tentang Allah bersumpah demi sesuatu, baik dengan kalimat yang mencantumkan kata ‘bersumpah’ maupun kata tersebut tersembunyi dan hanya mencantumkan ‘demi sesuatu’. Kedua cara ini adalah sama, bahwa Allah telah bersumpah (soal ini terkait dengan pemakaian kaedah tata-bahasa Arab, dimana sumpah disampaikan dengan memakai 3 alternatif huruf : ‘waw’, ‘ba’ dan ‘ta’.
Pengertian Sumpah dalam Al-Qur’an
Kata ‘sumpah’ berasal dari kata Arab ‘qasam’ yang akar katanya disusun oleh huruf ‘qaf-sin-mim’, kata ini menurunkan beberapa pengertian : to divide, dispose, separate, apportion, distribute..
http://www.studyquran.org/
Kata ‘qasam’ diartikan ‘bersumpah’ misalnya terdapat pada ayat :
falaa uqsimu bimawaaqi’i alnnujuumi
[56:75] Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quraan.
falaa uqsimu bialsysyafaqi
[84:16] Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja,
laa uqsimu bihaadzaa albaladi
[90:1] Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah),
Namun kata ‘qasam’ dengan derivasinya juga diartikan membagi, memisahkan, misalnya terdapat pada ayat :
wa-idzaa hadhara alqismata uluu alqurbaa waalyataamaa waalmasaakiinu faurzuquuhum minhu waquuluu lahum qawlan ma’ruufaan
[4:8] Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.
Faalmuqassimaati amraan
[51:4] dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan
tilka idzan qismatun dhiizaa
[53:22] Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.
Muncul pertanyaan :
”Lalu apa hubungannya bersumpah dengan membagi atau memisahkan..??”, apa sebenarnya arti bersumpah ketika ada kalimat ‘Tuhan bersumpah demi makhluk’..?? bagaimana sebenarnya posisi makhluk tersebut dalam sumpah tersebut..?? apakah benar posisinya sebagai pihak yang berkuasa untuk menghakimi pihak yang bersumpah..?? bagaimana halnya ketika Allah bersumpah demi diri-Nya sendiri..??
Kata ‘qasam’ sendiri dalam bahasa Arab setara dengan istilah lain :
Dalam bahasa Arab sumpah disebut dengan al-aimanu, al-halfu, al-qasamu. Al-aimanu jama’ dari kata al-yamiinu (tangan kanan) karena orang Arab di zaman Jahiliyah apabila bersumpah satu sama lain saling berpegangan tangan kanan. Kata al-yamiinu secara etimologis dikaitakan dengan tangan kanan yang bisa berarti al-quwwah (kekuatan), dan al-qasam (sumpah). Dengan demikian pengertian al-yuamiinu merupakan perpaduan dari tiga makna tersebut yang selanjutnya digunakan untuk bersumpah. Dikaitkan dengan kekuatan (al-quwwah), karena orang yang ingin mengatakan atau menyatakan sesuatu dikukuhkan dengan sumpah sehingga pernyataannya lebih kuat sebagaimana tangan kanan lebih kuat dari tangan kiri.
http://bs-ba.facebook.com/
sehingga selain arti kata : membagi atau memisahkan, ‘bersumpah’ juga mengandung unsur : menguatkan, mengukuhkan.
Yang perlu diperjelas disini adalah, ketika Allah bersumpah dengan nama makhluk-Nya, maka tidak ada suatu kesan yang muncul dari umat Islam, bahwa Allah telah ‘menyerahkan kekuasaan untuk menghakimi’ sumpah-Nya tersebut kepada benda tersebut. Baik didasar sumpah ataupun tidak, ataupun sumpah tersebut dilontarkan oleh siapapun, maka pihak yang berkuasa untuk menghakimi hanyalah Allah. Kalau begitu bagaimanakah sebenarnya ‘status’ makhluk/benda yang terdapat dalam sumpah itu..?? maka posisi makhluk/benda tersebut adalah sebagai SAKSI atas sumpah tersebut, saksi yang dikesankan independen, berdiri sendiri dan terpisah dari pihak yang bersumpah, berfungsi untuk menguatkan dan mengukuhkan bahwa apa yang disampaikan dalam sumpah tersebut benar adanya. Ini terkait dengan tujuan suatu sumpah dilontarkan, yaitu untuk meyakinkan pihak lain atas kebenaran apa yang disumpahkan, dimana pihak lain tersebut ragu-ragu atau tidak percaya. Kesan terpisah ini sejalan dengan tujuan disampaikannya sumpah, sehingga seolah-olah Allah mengatakan ;”Sekalipun Aku adalah Tuhan Yang Maha Berkuasa, namun makhluk/benda yang Aku jadikan objek sumpah-Ku, dipersilahkan memutuskan sendiri kesaksiannya. Apabila Aku telah berbohong atau sumpah-Ku tidak benar, maka Aku sendiri yang akan menghakimi diri-Ku..”.
Pengertian ‘qasam’ ini juga berlaku dalam hal Tuhan bersumpah atas diri-Nya sendiri. Pemisahan diibaratkan ‘posisi’ Tuhan sebagai pihak yang bersumpah dan sebagai pihak yang bersaksi merupakan dua hal yang seolah-olah terpisah, sehingga kesaksian Tuhan adalah adli, kuat dan benar. Ini memenuhi tujuan untuk apa sumpah tersebut dilontarkan, yaitu untuk meyakinkan pihak lain yang tidak percaya dan ragu-ragu. Disinilah kesetaraan antara istilah ‘qasam’ dan ‘aimanu’, yaitu kemandirian sebagai saksi menunjang pengukuhan dan penguatan sumpah yang disampaikan.
Berdasarkan penjelasan ini, pertanyaan dari pihak Kristen sudah bisa dijelaskan, apa yang mereka gugat tentang sumpah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an karena mereka memakai ukuran sendiri tentang apa yang dimaksud dengan sumpah dan subjek sumpah, mengartikan bahwa makhluk/n]benda yang terdapat dalam sumpah adalah sebagai pihak yang berkuasa untuk menghakimi, dan bukan sebagai saksi yang akan memberikan kesaksian terhadap kebenaran sumpah tersebut. Dalam istilah Islam, terlihat bahwa posisinya bukanlah demikian, karena yang berkuasa untuk menghakimi tetap saja ada ditangan Allah, makhluk/benda berfungsi sebagai saksi..
Sekarang muncul pertanyaan : lalu apakah seorang Muslim bisa bersumpah juga demi/dengan nama makhluk selain Allah..?? Terus-terang saya sama sekali tidak menemukan adanya larangan dalam Al-Qur’an tentang ini. Larangan bersumpah demi/dengan/atas mana selain Allah terdapat dalam hadist :
Umar bin Khaththab mendengar seorang laki-laki mengatakan,”Demi Ka’bah” maka ia mengatakan, “Janganlah bersumpah dengan selain Allah, sesungguhnya aku mendengar rasulullah saw bersabda, ‘barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah kufur atau syirik’” (HR Abu dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad)
Dari Umar bin Khaththab, ia berkata; Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nenek moyang kalian” (HR Muslim)
Dan hadits Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang berkata dalam sumpahnya, Demi Latta dan Uzza hendaklah ia menebusnya dengan mengucapkan, ‘Laa Ilaaha Illallaah’.”
Namun ternyata dalam riwayat yang lain, diungkapkan juga bahwa Rasulullah pernah bersumpah demi makhluk selain Allah :
sabda Nabi kepada seorang Arab Badui, “Demi ayahnya, beruntunglah ia jika benar katanya. Demi ayahnya, niscaya ia masuk Jannah jika benar katanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan jawaban beliau kepada orang yang bertanya tentang shadaqah, “Demi ayahmu, engkau akan diberitahu tentang hal itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari sini sebenarnya bisa kita simpulkan bahwa yang dimaksud larangan bersumpah demi nama selain Allah adalah dalam konteks : menjadikan sesuatu selain Allah tersebut sebagai pihak yang berkuasa untuk menghakimi sumpah kita, makanya dalam hadist tersebut dikatakan sebagai syirik, apalagi disampaikan contoh bahwa nama lain selain Allah tersebut adalah Latta dan Uzza, berhala yang sebelumnya disembah oleh kaum musyrik Makkah.
Namun tentu kita harus mensikapinya dengan cara ‘mengambil jalan yang paling aman’, daripada menjadikan makhluk/benda sebagai saksi sumpah kita, akan lebih baik kalau Allah-lah yang kita jadikan saksi, sekaligus pihak yang berkuasa menghakimi sumpah kita. Selain itu jalan yang paling aman, juga terkesan kita sungguh-sungguh melakukan sumpah agar pihak lain yang tidak percaya menjadi yakin dengannya, siapa lagi pihak yang kesaksiannya kuat dan bisa dipercaya melebihi Allah..?? bukankah memang itu tujuan seseorang melakukan sumpah..??
Langganan:
Postingan (Atom)